Kamis, 15 September 2016

Perawan Emas

Cerpen Weni Suryandari
            
Berapa harga tubuh seorang perempuan jika harus menikah atas nama harta atau balas budi? Jika pernikahan dilakukan atas dasar perjodohan, apakah akan tetap bahagia sepanjang usia? Setidak-tidaknya kini aku tahu, bahwa harga seorang perempuan itu tidak ternilai. Meski pun ia bagai seekor burung berkaki indah, berbulu cerah, di dalam sangkar emas.

Cerita cerita tentang perjodohan begitu banyak terjadi. Maka jika kelak kalian menemui cinta, peliharalah, sebab cinta itu kesetiaan dan pengorbanan. Terdengar bodoh, tetapi itulah
yang terjadi padaku!

Sejak takbir pertama Maghrib, seluruh penghuni rumah besar ini bersiap melaksanakan shalat berjama’ah, di mushalla keluarga yang terletak di kebun belakang. Angin senja menyeruakkan aroma kenanga, melati dan sedap malam disudut teras, juga dari gazebo yang menaungi jarak dari rumah induk ke mushalla. Mas Setyo, kepala keluarga mengimami kami semua dengan khusyuk. 

Usai shalat, kembali kami masuk ke kamar masing-masing dan segera berganti pakaian. Sanggul modern dan melati pesanan sudah kusematkan dengan kuat. Segera aku keluar dari kamar dan menanti siapnya seluruh keluarga besar untuk berangkat ke pesta. Aku tak ingin melihat  Mbak Hara begitu cerewet dalam mengawasi setiap penampilanku. Ajang ke pesta, entah resepsi pernikahan atau syukuran, adalah ajang pamer kekayaan, menurutku. Untuk hal itulah Mbak Hara selalu cerewet ~perempuan~ harga diri! 

Mbak Hara terlihat gusar. Ia melangkah mondar-mandir sambil memencet-mencet nomor telepon, menelepon adik-adiknya yang tinggal di wilyah lain agar segera bersiap-siap. Resepsi pernikahan keponakan sepupunya akan segera digelar di sebuah hotel berbintang lima. Semua adik-adiknya diberi perintah (kukatakan perintah) untuk berseragam kebaya marun dengan payet di bagian leher. Perintah selanjutnya, jangan lupa siapkan amplop dengan jumlah uang sekian dan sekian, jangan bikin malu keluarga besar, pakai baju yang kemarin dibelikan di butik ini dan butik itu, jangan lupa perhiasan ini dan itu dipakai. Intinya, jangan membuat malu keluarga. 

Aku menunggu dengan sabar. Kulihat tas mewah untuk pesta serta perhiasan sudah memenuhi pergelangan tangannya. Sebuah berlian besar yang dibelinya di Itali melingkari  dadanya. Indah dan mewah berkilauan. Mbak Hara menatapku lagi dan lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sanggulku pun ikut diperiksanya juga leher, tangan dan kaki. Ia hendak memastikan apakah aku telah berdandan sesuai dengan penampilan seorang aristokrat. Puihh! Demi kemiskinan yang kuwarisi turun temurun, inilah aku dalam kepahitan abadi.

Langkah suamiku terdengar, suara langkah yang tidak harmonis antara kaki kanan dan kiri. Kulihat ia menyembul dari balik kamar, berjas hitam, berdasi merah dan sepatu hadiah dari sang kakak, Hara Setyo Adi ketika ia sekeluarga bertamasya ke Paris.  Ya, suamiku adalah adik kesayangannya, adiknya yang kurang waras diumpankannya padaku yang ingin mengakhiri kemiskinan. Puihh! Biaya rumah tangga kami ditanggung seluruhnya oleh Mbak Hara, si sulung dari keluarga besar keturunan bangsawan dari Sumenep. Begitu pun rumah keluargaku di desa yang sudah reyot dan “bukan rumah” katanya, dihancurkan dan disulapnya menjadi rumah mewah berdinding beton dan bermodel masa kini, “model Spanyol” katanya. 

“Tin, bagaimana penampilanku? Keren? Keren kan?” Mas Adi mematut-matut diri di depanku.  

Sumpah demi Tuhan aku tetap melihatnya aneh. Giginya yang rusak dan kepalanya yang selalu bergoyang-goyang mendongak ke atas tanpa kontrol, mana mungkin bisa kubilang keren? Sudah dua tahun aku hidup dalam kemewahan, kemanjaan darinya dan dari keluarga besar, belum ada tanda tanda aku merasa jatuh cinta padanya!

“Keren, ganteng Mas! Sini,duduk di dekatku!” aku menyilakannya untuk duduk di sampingku. 

Mbak Hara tersenyum puas, senang melihat adiknya diperlakukan mesra. Ia kerap mengatakan padaku bahwa dengan pelayananku yang baik, adiknya akan berangsur-angsur normal kembali. Kuanggukkan saja kepalaku saat itu demi bujukan untuk mengangkat nasib keluargaku dari kemelaratan.

“Ayo,kita berangkat!. Ingat, jangan bikin malu! Semua harus menyapa kerabat. Ingat, ini pertemuan silaturrahim dalam bentuk resepsi pernikahan. “ Ujarnya sambil membetulkan tasnya dan memeriksa amplop. Mulutnya tak henti mengeluarkan kata “ingat!”.

“Ini amplopmu, Tin! “ Ia serahkan sebuah amplop putih. Kubuka isinya, lima ratus ribu untuk tanda kasih bagi pengantin. Jumlah yang luar biasa jika dibandingkan dengan selamatan ala kadarnya di desaku. Desa yang dihuni oleh keluarga miskin, keluarga nelayan.

“Ingat! Kasih tulisan ‘Dari keluarga Permadi dan Martinah’ begitu!” Aku mengangguk seraya mencari pulpen sambil berjalan menuju mobil. 

Mbak Hara dan Mas Setyo duduk di depan, Mas Permadi dan aku duduk di belakang. Ia menggenggam tanganku. Aku dibuatnya repot, sementara aku harus menuliskan ucapan selamat dan tanda tangan pada amplop.

“Sebentar Mas, aku menulis ucapan dulu.” Ia lepas tanganku, sambil memandang keluar. Kepalanya bergoyang-goyang seperti biasanya. Kadang mengeluarkan suara hentakan entah apa. Tak begitu jelas. Kadang seperti bergumam sesuatu, juga tak jelas. 

“Sudah ditulis, Tin? “ 


“Sudah, Mbak. “ Mbak Hara segera mematikan lampu, mobil segera melaju menembus kepekatan Jakarta. 

Kembali tangan mas Permadi mencari tanganku. Ia tak pernah bisa melepas tanganku jika sedang duduk berdampingan seperti ini.  Suasana begitu tertib terjaga. Mbak Hara adalah seorang perempuan yang baik sebenarnya. Ia menyayangi seluruh keluarga dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Suaminya, adalah seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah. Hidupnya begitu berkelimpahan harta. Setiap tahun ia selalu mengajak adik-adiknya untuk melakukan umroh bersama. Sepanjang tahun ia bisa beberapa kali berlibur di luar negeri. Bagiku, seakan-akan Mbak Hara tak akan pernah jatuh miskin. Mungkin Tuhan sudah melempar koin kaya untuknya dan koin miskin untuk keluargaku. 

Keluargaku memiliki warisan kemiskinan yang tidak terampunkan. Sebagai anak sulung dari tiga saudara laki-laki, aku harus bekerja keras membantu Emak berjualan kue di pasar. Demi menyekolahkan adik-adikku yang katanya mesti sekolah tinggi karena mereka anak laki-laki, aku dipaksa untuk berhenti sekolah oleh Bapak dan membantu berjualan kue hingga datang jodohku.

Jodoh? Bagiku jodoh tidak pernah ada. Cinta? Apalagi cinta! Aku tak pernah jatuh cinta. Cinta sama menjijikkannya dengan kemiskinan. Siapa laki-laki yang bisa menaklukkan karang hatiku? Laki-laki pedagang pisau, tukang tambal ban, tukang servis jam atau penjual petis?  Laki-laki seperti itulah yang sering kutemui di pasar setiap hari. Bukan mengubah keadaan malah akan memelihara kemiskinan. Selamanya hidup kami tidak akan terangkat.

Kini lihatlah, dua pasang gelang emas berukuran besar melingkari pergelangan tanganku. Seuntai kalung emas berliontin berlian berbentuk hati menghiasi  dadaku. Kebaya modern dengan payet mahal dan kain sutra melekat di tubuhku. Wajahku kian cantik, dirias oleh perias handal, langganan Mbak Hara yang sengaja dipanggil ke rumah. Jangan tanya dimana aku tinggal: di rumah Mbak Hara! Rumah yang luasnya seperti sepuluh kali lipat besarnya dari pada rumah Ibu di desa. Bentuk bangunan yang mewah dan bergaya Spanyol. Kamar yang mewah, berpendingin dan lengkap dengan kamar mandi marmer. Persis seperti yang kulihat dalam sinetron televisi. Hebat, bukan?

“Tin, siap-siap, sebentar lagi sampai.” Ujar Mbak Hara memecah lamunanku.

Kubetulkan kembali kainku, kebayaku dan tas tanganku sebelum melangkah. Mas Permadi menggandeng tanganku. Berempat kami melewati para among tamu. Semua berebut hormat pada Mbak Hara dan Mas Setyo suaminya, tapi tidak padaku dan suamiku. 

Permadi berkali-kali merangkulku di suasana pesta, aku menolaknya! Ia marah dan tak terkontrol. Kubentak ia dan kusorongkan sebuah garpu tepat di depan perutnya, sekadar mengancamnya. Rambutnya yang gondrong berkilauan penuh uban, bergoyang-goyang. Demi Tuhan, aku tidak mau dibuat malu! 

Sepulang pesta, aku merasa sunyi. Malam kian larut, jalanan di Jakarta masih ramai. Suamiku semakin menjadi-jadi, kepalanya mendongak- dongak tak terkontrol, ceracaunya kian tak terkendali. 

“Kalau saja bukan karena Hara, aku tidak mau menikahimu! “ Teriaknya sambil menangis. Aku terkejut! 

“Maksudmu? “ Kataku berbisik.

“Karena Mbak Hara membeli keluargamu dengan harta berlimpah! Akui saja!. Bilang pada Mbak Hara bahwa aku belum pernah menyentuhmu! Bilang padanya bahwa kau jijik padaku. “ Dadaku berdegup turun naik, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tanganku gemetar ingin menampar mulutnya. Lelaki tidak waras ini, suamiku ini, kata-katanya membuatku hancur!

“Apa benar Tin? Kamu tidak pernah tidur dengan Permadi?” Suara Mbak Hara terdengar dingin dan kejam.

Air mataku berjatuhan, bibirku gemetaran. Ingatanku kembali pada kamar kami:  kaca rias yang ditinjunya saat aku hanya berdiam di pojok tempat tidur. Pintu lemari yang rusak ditendangnya, cakaran di punggungku yang masih membilur bekas luka, semua tergambar jelas. 

“Martinah tidak mau tidur denganku, Mbak! Ia tidak mau kusentuh!” Permadi memukul-mukul wajahnya sendiri. Sesekali ia meninju-ninju jok belakang.

“Kenapa kau tidak mau, Tin? Padahal itu akan menyembuhkan adikku. Seorang istri akan berdosa besar jika ia durhaka kepada suaminya! Kamu tidak ingat pemberianku pada keluargamu? ….” Kata demi kata dan semua celotehan itu terus bergema.

 Sanggulku berantakan, melati terurai dan terlepas dari roncenya. Tangisku kian lepas. Aku berlari seturunnya dari mobil. Menuju kamar dan berkemas. Neraka ini harus kutinggalkan!


Maka di sinilah aku kini, bersama setiap kenangan yang kularung ke laut, bersama pasir pantai yang sesekali datang dan pergi. Jika kalian datang ke kampungku, kalian akan bertemu denganku di pojok jalan dekat taman rekreasi Lombang,  sambil melayani pembeli. Aku akan ceritakan kejadian sesungguhnya, selengkap-lengkapnya!  

Jati Asih, 2009 - 2016 

Terbit di  Minggu Pagi, 9 September 2016

Senin, 05 September 2016

Warisan

Cerpen Weni Suryandari

ENTAH apa yang telah dialami hidup lelaki renta itu sebelum maut menjemputnya. Tak ada tangis sanak keluarga, tak banyak yang mengantar jenazahnya menuju liang lahat. Bahkan untuk menurunkannya dari kurung batang pun, anak-anaknya, cucu-cucunya tak ada yang ikhlas melakukannya. Dengan tatapan datar mereka menyaksikan tubuh lelaki renta itu dalam balutan kafan. Diturunkan dengan susah payah, dibuka penutup kepalanya, agar wajahnya dapat mencium tanah. Begitu sulitnya diposisikan untuk mencium tanah. Tubuh gemuk dan perut gendutnya menghalangi.

baca selanjutnya: 

Kemarin petang, langit mencekam. Ketegangan meliputi rumah kuno dan kusam itu, rumah keluarga Tajudin. Satu-satunya rumah yang tergolong mewah dan berdiri kokoh dengan luas yang layak dianggap sebagai keluarga berkecukupan di antara rumah-rumah tetangganya yang kecil, yang rata-rata luasnya hanya sepetak. Lelaki renta itu menghembuskan nafas terakhirnya tanpa seorang pun tahu. Hanya Ruminem, istri mudanya yang mengabarkan kematiannya kepada anak-anaknya. Beberapa tetangga, termasuk Pak RT telah bersusah payah menggotongnya dari kamarnya di lantai atas menuju lantai bawah. Jenazah dibaringkan di kamar tidur tamu, sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang tamu.

Suasana duka tak nampak dari raut muka ke delapan anak-anaknya. Empat laki-laki dan empat perempuan. Dua orang cucunya yang bersekolah di pesantren, saat hendak membacakan surah Yasin dihalangi oleh Uwak dan Bibi-nya. Tiga cucu lainnya yang masih kecil berlarian dan bercanda di sekitar jenazah dan sesekali merengek minta dibuatkan susu. Tak ada surah Yasin, tak ada tahlil bergema di rumah duka. Sunyi. Sunyi semata dari kalimatNya.

Jenazah Tajudin, sang Bapak dibiarkan teronggok di ruang tamu. Bau tidak sedap menguar di ruangan itu. Wewangian, kapur barus, dupa dan bubuk kopi diletakkan di keempat sudut pembaringan jenazah. Es balok besar besar ditumpuk di dua baskom besar dan diletakkan di kolongnya. Namun bau itu tetap menguar. Sesekali tetangga datang melayat, membuka tutup wajahnya dan menutupnya lagi. Bisik-bisik aneh terdengar di antara mereka sekeluarnya dari ruang duka.

Beberapa tetangga hanya berdoa sekadarnya, lalu keluar lagi. Kerabat hanya datang satu persatu, tak lama, lalu pulang. Sunyi. Sepi. Hingga subuh menjelang, semua anak-anaknya melakukan shalat di beranda belakang yang menghadap rerumputan dan ditumbuhi beberapa pokok pohon mangga.

Matahari jelang pukul 8, Pak RT datang. Ya, telah menjadi kewajibannya mengurus warganya yang meninggal. Agus, meski bukan putra sulung, menemuinya.
“Bagaimana, Pak? Jam berapa mau dimandikan? Disholatkan di mana?”
“Saya harus tanya adik-adik saya dulu, Pak. Mau disholatkan atau tidak?”
Pak RT terperanjat.
“Bukankah… bukankah Bapak Tajudin beragama Islam?”
“Saya tidak tahu agamanya, Pak RT. Sebentar saya tanya adik-adik saya dulu.”
“Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak Agus. Kalau ada kabar apapun, segera beritahu saya.”

Pak RT berlalu dengan senyum mafhum. Bagi Pak RT, Tajudin adalah laki-laki yang terlalu pongah untuk mengalah pada tetangga. Perseteruan tentang batas saluran got, batas pagar, dan sebagainya selalu menggantung tak terselesaikan. Begitu juga tentang iuran sampah, iuran keamanan dan perbaikan jalan. Begitu pula jika ia kedapatan menggoda pembantu-pembantu tetangga. Anak-anaknyalah yang selalu meminta maaf atas kerusuhan yang dipicu oleh Tajudin.

Pertengkaran demi pertengkaran dalam keluarga Tajudin kerap terdengar. Apalagi sejak laki-laki tua itu menikahi pembantunya yang bahkan usianya jauh lebih muda daripada putri bungsunya, Yanti. Tak ada yang bisa mencegah bisik-bisik seputar rumor pernikahan luar biasa itu. Bahkan seorang anak telah lahir dari pernikahan keduanya, meski semua meragukan apakah Tajudin masih bisa….

Semua berkumpul di ruang belakang sembari sarapan. Tak ada yang berani memulai membuka perundingan tentang apa yang harus dilakukan dengan jenazah Bapaknya.

“Mau dikubur di mana tuh Papi?” Agus yang dituakan dan dianggap paling terpelajar membuka percakapan.
“Tak usah dikubur, buang saja ke jurang,” Godet, sehari-harinya bekerja sebagai Satpam menyela. Wajahnya tersenyum sinis.
“Hahaha, suruh jalan sendiri saja ke pemakaman,“ Idham menambahkan.
“Ngaco! Ya dikuburlah, daripada bikin susah cari jurang!“ Ipat menyela. Ia masih ingat makian Bapaknya beberapa kali, bahwa ia dicoret dari daftar anak, lantaran menikah dengan seorang marinir.
“Nyatanya, jika Papi mengeluh ada yang mengancamnya dengan senjata atau mengajaknya berkelahi karena pertengkaran kata-kata, suamiku yang datang melerai dan membela. Beberapa kali Bang Edo datang untuk menenangkan hati warga yang sakit hati sama Papi.”
“Heeehh, dengar ya! Dia sendiri yang bilang, nggak usah repot-repot ngurusin kalau dia mati! Kan kita semua sudah di-‘durhaka-durhakain’, diusir-usir dari sini!” Idham menyela lagi.
“Hihihi. Bapakmu itu memang antik. Kita diumpat-umpat, dikata-katai anak durhaka semua. Bukannya dia yang durhaka sama kita, anak-anaknya? Sekolah aja biaya sendiri. Susaaaaah sekali!” Titin menyahut sambil terkekeh.

Mulutnya sibuk mengunyah ikan asin, sambil sesekali menyuapi anaknya. Bagaimana pun ia ingat betul kebiasaan bapaknya mengusirnya dengan menyebut-nyebutnya anjing, anak durhaka, tidak tahu berterima kasih, lantaran ia pernah sekali saja menyuruh Bapaknya sholat daripada mengumpat-umpat pemuda tetangga yang menantangnya berkelahi. Hanya karena persoalan sepele, pemuda itu menyatakan telah lulus kuliah dan memamerkan ijazah sarjananya.

“Tanya tuh Pak RT. Dia tahu kejadian itu. Memalukan!” imbuh Titin.
“Aku tidak mau ikut ambil keputusan. Susahnya ke kita, senangnya ke dia, perempuan sundal itu!“ Titin menambahkan lagi. Istri muda Tajudin, Ruminem belum juga muncul dari dalam kamarnya. Sejak semalam, ia tidak mau keluar dan hanya memeluk anaknya di lantai atas.
“Heiii, anjing sundal! Keluar kamu! Urus tuh mayat lakimu! Jangan cuma nunggu warisan!” Jamilah memanggil istri muda Tajudin sambil memaki. Suaranya yang serak terdengar keras sembari melongok tangga ke ruang atas.
“Sstt, jangan begitu! Malu sama tetangga!” Agus menenangkan.
“Biarin aja. Harta Papi habis dijual buat ‘anjing’ itu! Harta Mami semua itu!” bantahnya lagi.
“Itu ‘anjing’ sudah dapat bagian banyak dari warisan Mami, belum lagi uang pensiun yang lumayan besar. Padahal dulu gaji Mami habis buat makan kita dan uang sekolah!” Idham tak kalah keras.
“Ya betul! Tidak ada contoh baik dari Papi kita! Sama sekali tidak ada,“ Godet menambahkan sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Agus mengangguk mengiyakan.

Yanti anak bungsu Tajudin yang baru saja melahirkan anak kedua segera ikut bicara.
“Coba deh Kakak pikir. Setiap Papi dapat gaji ketiga belas, sama sekali tak pernah memberi sama cucu-cucunya. Belum lagi waktu tanah dan sawah Kerawang dijual, kita semua cuma diberi dua juta. Ratusan juta diambil sama si anjing itu.”
“Anjing itu biang keroknya. Sejak kawin sama dia, harta Papi dan Mami habis. Padahal itu punya kita. Kalau kita sakit minta uang untuk ke dokter saja tidak pernah diberi!” Idham menambahkan.

Suasana selalu menegang jika membahas soal harta warisan mendiang Mami dan Papi, pasangan Tajudin. Apalagi jika Idham, Jamilah dan Godet ikut bicara. Anak-anak lainnya kebanyakan diam dan enggan berkomentar. Bahkan bersembunyi di kamarnya, ketakutan jika mendengar suara-suara gelas dibanting dan pecah berantakan. Semua terjadi jika ada pertengkaran antara Tajudin dengan anak-anaknya. Tangis ketakutan dan bantahan mereka hanya berani disampaikan dalam pembicaraan antar anak-anaknya jika keributan berlalu. Bukan kepada sang Papi.

“Papi kok dilawan? Dasar anak tidak tahu berterima kasih. Tidak tahu adat. Anak durhaka kalian semua! Siapa yang berani melawan Papi? Sini! Gua bacok-bacokin lu! Ingat nggak papi sering ngomong begitu?” Ipat menambahkan. Yang lain mengangguk setuju.

“Si sundal Ruminem yang menggerogoti,” Jamilah menyahut.
“Jadi bagaimana ini? Sebentar lagi Pak RT datang. Papi mau dimandikan,” tanya Agus.
“Ya sudah! Aku sih tidak mau memandikannya!” Titin menyahut, Jamilah mengangguk.
“Jangan begitu, kita kan anak-anaknya? Masa tidak mau memandikan?“ tanya Agus lagi.
“Apa dulu waktu kita lahir diazankan? Rasanya tidak! Aku juga tidak mau menyholatkan, kan Papi sendiri bilang agamanya suka-suka kalau aku berangkat ke masjid. Orang tua gila!” Idham menyela.
“Kita semua nggak ada yang bisa membaca Al Qur’an. Kita semua ditertawakan jika memamerkan bacaan Al Fatihah di depannya,” Ipat menambahkan.
“Ya, puasa pun tidak pernah! Lebaran mau bermewah-mewah, buat sombong-sombongan saja!”
“Mami tidak pernah bahagia. Mami menderita karena Papi selalu menggoda setiap pembantu yang kerja di rumah kita,” Titin menyela.
“Apalagi kalau Mami sholat, ditendang pantatnya suruh cepat selesai karena minta dibelikan nasi goreng. Padahal dia baru habis makan. Untung Mami sabar!” Jamilah menambahkan. Istri Idham yang sedari tadi diam mendengarkan terkejut. Matanya merebak duka. Jilbabnya dibetulkan. Istri Agus pun yang berprofesi guru tak kalah bersedih. Ipar-ipar laki-laki berada di beranda depan menunggui tetangga yang datang melayat.
“Mami begitu sabar. Aku sayang sekali pada Mami,” sahut istri Agus
“Bersyukur semua menantu-menantunya orang-orang yang lembut, dan dibesarkan oleh orang tua yang benar,” lanjut Jamilah.
Semua menantu Tajudin memang tak pernah bersuara. Selama ini mereka hanya diam, tak pernah membela suami atau istrinya jika kedapatan dimaki-maki kasar di depannya.
Pukul 9 menjelang. Pak RT datang lagi.
“Pak Agus, apa sudah mengambil keputusan? Sebentar lagi tukang mandi jenazah kami panggil. Ustadz yang biasa mengajar ngaji anak-anak di masjid.”
“Ya, Silakan Pak RT. Mandikan saja. “
“Mau disholatkan di mana? Rumah atau masjid?”
“Hmm… di masjid saja, Pak RT.”

Pak RT segera berpamitan dan bersiap memanggil tukang mandi mayat. Ruminem muncul. Wajahnya cukup bersedih. Sembari menggendong bocah lelaki berusia dua tahun ia menghampiri jenazah Tajudin. Dibukanya penutup mukanya sejenak. Lalu ditutupnya lagi. Bocah dalam gendongannya merengek minta dijauhkan dari situ.

Menjelang zhuhur, jenazah sudah dikafankan. Lalu beberapa orang menggotongnya menuju masjid. Agus, istrinya dan menantu-menantu lainnya ikut ke masjid dan menyholatkannya. Adik-adik dan seorang kakaknya tidak ikut mengantar. Mereka hanya menunggu di mobil dan bersiap memberangkatkan jenazah Tajudin ke pemakaman.

“Aku tidak akan pernah lupa diusir dan dinyatakan di atas kertas dihapus dari daftar anak! Bahkan sampai diberi materai! Jadi bahan tertawaan semua orang yang pernah dia ceritakan. Padahal kalau dia sakit pasti aku selalu dipanggilnya,“ Deden yang berprofesi dokter membuka pembicaraan.

“Huh, apalagi aku. Waktu kita semua pergi teraweh, diteriaki. Katanya ‘ngapain nungging-nungging? Tuhan kok mau ditunggingin?’ Sudah kubilang agar Papi ‘nyebut’, malah aku ditertawakan. Kujawab ‘Papi ini Islam atau apa sih?’“ Idham menambahkan.
“Apa aja, suka-suka gua! Sudah bisa ditebak! Biasaaa!” empat anak lainnya lelaki dan perempuan menjawab serempak, lalu tertawa cekikikan. “Buat apa disholatkan? Nggak jelas!” seru suara-suara susul menyusul.
“Tuh, orang tua yang dulu selalu merasa akan panjang umur. Kalau diingatkan tentang umur, disuruh taubat, selalu bilang ‘gua nggak bakalan mati’. Eh mati juga!” Godet menyeringai, yang lain terkekeh.

Begitulah. Pemakaman berlangsung diam-diam, anak-anak Tajudin hanya menonton orang-orang yang menurunkan jenazah. Tetangga yang mengantar jenazah hanya beberapa orang. Hanya dua mobil biasa terparkir, mobil ketiga adalah mobil jenazah sebuah yayasan kematian.

Agus menatap gundukan tanah di depannya. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu. Sesekali ia menengok ke sana ke mari mencari-cari seseorang. Entah siapa yang dicarinya. Tak lama kemudian, sesosok perempuan muncul dari kejauhan. Menggendong bocah lelaki, berjalan terseok-seok mengenakan sepatu bertumit tinggi. Pakaiannya berwarna mencolok, berkacamata hitam, berkerudung hitam.

“Papi, nanti si Kevin sekolahnya gimana atuh?” Ruminem berjongkok di sisi makam. Tanpa tetes air mata, tanpa getar kesedihan. Perhiasan bergemerincing di pergelangannya. Sebuah tas kulit hitam diletakkannya di sisi lututnya. Koper kecil di belakang punggungnya. Entah apa yang akan dilakukannya.
“Kenapa kamu baru datang Minem?” Agus bertanya dengan suara keras. Ia menahan geram menatap Inem.
“Anjing! Jangan pura-pura lu! Pensiun Papi buat apa? Rekening lu di bank ratusan juta. Masih kurang, hah?” Jamilah tak sabar membentak Ruminem.

Titin maju mendekat. Direnggutnya kerudung hitam Ruminem. Rambutnya yang dicat merah terlihat mengkilap diterpa sinar matahari. Ruminem mengelak. Titin maju lagi, direnggutnya kacamata hitamnya. Betul tanpa air mata kesedihan! Ipat maju merenggut tas tangannya. Tarik menarik terjadi.
“Mau ke mana lu? Papi sudah meninggal. Lu kagak pernah urus Papi. Mau hartanya saja. Dasar rakus! Pergi lu!” Jamilah, Titin, Ipat dan Godet menyerangnya. Ruminem berdiri tegak mempertahankan tas tangan dan kopernya. Anak dalam gendongan terguncang-guncang.

Agus menahan nafas. Ia membiarkan semua terjadi. Tetangga yang masih berdiri di situ menonton adegan tersebut dengan mulut menganga. Tanah pemakaman masih basah dan merah di siang yang membakar itu.[]

Januari 2013

Ilustrasi: Lukisan folklor Dong Ho 

Senin, 29 Agustus 2016

Aku Bukan Bangsawan

Cerpen Weni Suryandari

Sejak kecil aku dididik untuk bersikap halus, santun, sopan sesopan-sopannya. Tak lain karena aku perempuan. Lebih ekstrim lagi karena aku gadis keturunan bangsawan dari silsilah raja-raja Sumenep. Entah keturunan ke berapa. Aku pun tak terlalu perduli, sebab bagiku, keturunan bangsawan atau bukan adalah sama saja. Tak ada pengaruh yang bisa membuatku jauh lebih istimewa dibandingkan dengan yang bukan keturunan bangsawan. Ah, siapa pula yang akan membuat diri kita sukses dan menjadi manusia yang mandiri dan berdaya guna jika bukan karena kemampuan kita sendiri? Aku tak pernah percaya bahwa silsilah dapat mengubah nasib baik seseorang di masyarakat.

 Ikuti selanjutnya:


Mengapa kemudian ibuku menjadi sedemikian ketat untuk urusan tata krama dan budi pekerti luhur? Tata krama selalu diagung-agungkan sebagai sebuah adab tertinggi dalam budaya prilaku kaum priyayi dalam adat Jawa atau adat bangsawan di manapun. Di seluruh pulau Madura, menurut Ibu, Sumenep adalah wilayah paling halus tata krama dan budi bahasanya di antara semua wilayah bagian di pulau garam ini.

Ibu tak pernah mengizinkanku untuk menopangkan kaki jika berbicara di depan keluarga, terutama di depan orang yang berusia lebih tua. Tak pernah membiarkanku tertawa lepas, cekikikan,   atau terbahak-bahak dan membuka mulut selebar-lebarnya. Pernah pahaku dicubit sedemikian keras ketika kedapatan ikut bicara dan menyilang kaki saat bertamu atau menerima tamu kerabat jauh dan dianggap terhormat, karena kekayaannya atau usianya, atau hubungan struktur kekerabatan yang lebih tinggi daripada Ibuku.

Ya. Bapak dan Ibuku keturunan bangsawan. Seluruh keluarga besarnya yang tersebar di Jakarta begitu bangga dengan keberadaan itu. Semua selalu membanggakan namanya yang berembel-embel R atau RA, RP atau RM. Hanya keluargaku yang tidak terlalu memusingkan soal gelar, sebab ayahku sangat moderat. Di zaman tahun 60-an, ayahku ikut pergerakan mahasiswa meskipun memiliki hubungan asmara dengan ibuku. Jadi, sedikit banyak, pergaulan mahasiswa yang digeluti ayahku ikut mengubah paradigma berpikirnya yang kolot dan feodal menjadi modern dan moderat.

Semula aku merasa biasa-biasa saja menghadapinya. Menjalani hidup seperti tuntunan Ibu membuat aku lebih mawas diri, lebih menjaga perilaku, terutama dalam pergaulan dengan sesama teman kuliah. Cara bergaul dan bertutur kata yang melekat dalam kepribadianku terbaca oleh teman- teman sepergaulan. Apalagi laki-laki yang jatuh hati padaku. Baik yang seangkatan maupun kakak kelasku. Kerapkali mereka bilang: orang Madura halus sekali, seperti keturunan kraton!

Persoalan lalu menjadi runyam ketika aku mulai berpacaran dengan Rusdi, pria asal Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta. Sebagai seorang penyuka sastra, aku mengenal Rusdi melalui tiga buah novelnya yang terbilang laris manis di pasaran. Banyak sastrawan hebat yang menjadi temannya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya, sedangkan aku penggemar berat karyanya? Kami sering bertemu jika ada acara peluncuran buku atau temu sastra dan diskusi di TIM atau di tempat-tempat lainnya. Rusdi selalu melirik jika kedapatan aku sedang mencatat atau mengajukan pertanyaan pada moderator. Bahkan pernah pula aku didaulat membacakan puisi Rendra untuk mengisi kekosongan acara, sembari menunggu kehadiran pembicara selanjutnya. Gayaku yang tomboy membuat Rusdi tertarik untuk mendekatiku. Bahkan, suatu ketika, mengantarkanku pulang ke rumah seusai acara. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Kenangan yang membuat jantungku berlompatan ketika Rusdi dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada novelnya yang kumiliki dengan tulisan : untuk Ariani, I love u!

Namun, gaya urakan Rusdi itulah sumber petakanya. Suaranya keras dan sikapnya yang sangat terbuka, membuat aku jengah. Setiap ia bertandang ke rumah dan berbincang-bincang bersama ibuku, alangkah tidak sopan gayanya! Sesukanya saja ia silangkan kaki, mengangkat cangkir dan menyeruput minuman dengan cara yang kasar, bahkan membantah argumentasi Ibu jika sedang bersilang pendapat tentang hal-hal biasa, semisal harga BBM, kebijakan pemerintah, emansipasi perempuan, gosip selebritis atau apa saja yang sedang ramai jadi perbincangan orang banyak. Ah, tentu dapat kau bayangkan! Pasti alis Ibuku langsung mengernyit, lalu segera masuk kamar. Alih-alih keluar lagi, seperti biasa Ibu segera memanggilku, kemudian berbisik menyuruhku bergegas mengusir Rusdi.

Namun Rusdi bukanlah seorang Batak tulen jika ia mudah menyerah. Rusdi pantang putus asa. Ia bersiteguh pada pendiriannya untuk tetap menunggu restu dari Bapak dan Ibuku. Jadwal bermalam Minggu atau kunjungan rutin masih tetap dilakukannya. Ia pun tetap rajin mengajakku ke tempat-tempat pertemuan sastrawan, atau menonton pertunjukan teater di TIM. Seusai menonton, kami akan mendiskusikannya. Penguasaan Rusdi akan dunia seni teater dan sastra membuatku bertekuk lutut! Aku makin jatuh cinta padanya. Lama kelamaaan aku mulai terpengaruh oleh sikapnya. “Berani karena benar”, begitu selalu yang ditanamkan Rusdi di kepalaku. Aku menjadi lebih mudah berbicara, atau memberi argumentasi jika tak sepakat, bercakap-cakap dengan bebas dengan orang yang lebih tua. Bahkan tertawa terbahak-bahak pun mulai berani kulakukan.

“Ibu, dunia tak akan runtuh hanya gara-gara aku tertawa keras Ibu!” begitu bantahku. Atau, “Mengapa kita harus diam jika kita tak setuju? Alangkah menderitanya menjadi perempuan? Apa aku tak boleh berbicara atau mengemukakan pendapatku, Bu?” Begitu sergahku. Ibu akan menunjukkan sikap tak suka, geleng-geleng kepala atau menampar mulutku yang berani.
“Gara-gara kamu bergaul dengan Rusdi dan semacamnya, kamu jadi seperti tidak terpelajar, Ariani!”
“Bukan karena bergaul dengan Rusdi, Ibu! Ini zaman modern, mengapa kita masih terikat dengan adat kuno itu? Ah, Ibu!” bantahku sambil membanting pintu kamarku dan menyetel musik keras-keras. Kemudian membuka-buka buku, atau membaca novel yang belum selesai kubaca.

**************

Malam itu Rusdi mengajakku menonton pentas pertunjukan monolog yang dimainkan oleh Butet Kertaredjasa. Sebagai penggemar berat Butet, tentu aku tak menolak ajakan Rusdi. Apalagi harga tiket masuk terbilang cukup mahal. Aku meminta izin pada Ibu, meski aku yakin Ibu tak akan menyambut laporanku dengan gembira.

“Bu, nanti aku akan nonton pertunjukan monolog bersama Rusdi. Pulang malam, Bu!” kataku meminta izin dengan jujur. Aku tak pernah mendustai Ibu.
“Tidak! Sabtu yang lalu kamu pulang tengah malam dengan Rusdi. Dua hari yang lalu, keponakan Ibu melihatmu sedang bergandengan tangan dengan Rusdi di sebuah CafĂ©. Dan kamu tahu apa akibatnya? Keluarga ini jadi pembicaraan di keluarga besar kita! Ibu malu!” Ibu tak bisa dibantah.

    Aku tetap bersikeras agar bisa pergi menonton pertunjukan Butet malam nanti. Acara ini sudah kutunggu sejak berhari-hari yang lalu. Sudah kunanti-nanti! Perdebatan pun berlanjut seperti biasanya. Ah, mengapa aku yang selalu tak bersepakat dengan Ibu? Apa karena aku anak sulung dan paling dewasa di antara tiga bersaudara? Adikku perempuan masih remaja, kelas dua SMP. Mungkin belum saatnya memikirkan hal-hal seperti yang kupikirkan saat ini!

    Satu jam kemudian kulihat Ibu sedang menyiangi sayuran yang akan dihidangkan untuk makan malam. Dapur begitu sepi. Ibu memang jarang berbicara dengan pembantu. Pembantu setia kami—sudah dua belas tahun mengabdi di keluarga kami, sejak adik bungsuku berumur 3 tahun—jarang mengobrol dengan Ibu. Sedangkan aku senang berkelakar. Hubunganku dengan Umaiyya terbilang akrab. Ia juga berasal dari Sumenep. Memanggil Ibuku dengan julukan Din Aju (Den Ayu, bahasa Jawa).

    Kuintip lagi Ibuku di dapur. Pembantuku sedang mencuci daging. Ibu masih menyiangi sayuran. Saling diam, saling bisu. Keduanya tak bercakap sama sekali. Aku hanya berdiri di balik pintu. Ingin masuk dan merajuknya, tak berani. Aku melihat Ibuku berwajah muram. Jangan-jangan Ibu sedang gusar memikirkan perilakuku. Sering Ibu berbicara: sebagai anak sulung, kau harus memberi contoh pada adik-adikmu. Padahal sebagai anak sulung aku merasa beban ini begitu berat. Aku menyukai kebebasan selama itu bertanggung jawab.

    “Bu, boleh ya, Bu. Aku ingin sekali menonton pertunjukan itu! Tiketnya sudah dibelikan oleh Rusdi!” rajukku.
    “Rusdi! Lagi-lagi Rusdi! Mon nyare lalake’ se teppa’!” ujarnya tanpa menoleh.
    “Rusdi baik, Bu. Ia tak pernah kurang ajar! Kenapa Ibu membenci Rusdi? Apa karena ia orang Batak, dan bukan keturunan priyayi?” bantahku mulai emosi.
    “Bukan hanya itu! Ia kurang sopan! Ibu tak suka!” Ibu membanting pisaunya di atas baskom kaleng tempat sayuran. Suaranya mengagetkanku. Pembantuku juga terkejut, menggidikkan bahu dengan reflek.
    “Lanjutkan Umi! Sayur bening buat Bapak!” Ibu berseru sambil berjalan melewatiku.
Aku terhenyak. Sungguh tak berani membantah Ibu. Tapi, oh, bayangan Butet Kertaredjasa sedang bermonolog begitu menggoda imanku! Pelan-pelan aku berdiri dari jongkok di atas dingklik plastik, menuju ke ruang depan.
    Di kamar depan, kamar Bapak dan Ibu, kulihat Ibu sedang berbaring membaca majalah. Ah, di satu sisi Ibu gusar sebab aku tak juga menemukan jodohku meski usiaku beberapa bulan lagi hampir menginjak kepala tiga. Di sisi lain, Ibu begitu ketat memilihkan jodoh yang cocok buatku. Jujur saja, meski banyak lelaki yang mendekatiku, aku tak terlalu suka untuk cepat-cepat memutuskan pilihan. Ada-ada saja kurangnya!
    Dengan tubuhku yang tinggi semampai, wajah cukup cantik, rambut ikal panjang dan otak cemerlang kata orang, tak mungkin aku sulit mendapatkan jodoh, demikian kata Ibu berulang-kali. Padahal, aku tahu, Ibu juga suka bingung melihat betapa sulitnya aku bertemu jodoh.
    “Bu, aku akan pergi. Aku harus pergi, Bu! Teman-teman teater akan datang semua menonton pertunjukan itu! Tak mungkin kubatalkan! Rusdi sudah membelikan tiketnya, sepulang kantor akan menjemputku.”
    “Rusdi lagi, Rusdi lagi! Ibu tak mau mendengarnya! Apa kata orang dan keluarga besar kita jika anakku menikah dengan anak petani orang Batak? Kasar! Bukan keturunan priyayi!”
Telingaku seperti tersengat lebah! Sakit! Aku mencintai Rusdi dan diam-diam kami sudah mempersiapkan cincin!
    “Ibu! Zaman sekarang masih saja berpikiran kolot! Apa hebatnya keluarga bangsawan, Bu? Apa makanannya bukan nasi? Atau buang gasnya lebih wangi? Ibu…, aku tak tahan lagi dengan semua doktrinmu tentang kebanggaan akan gelar!” sungutku sambil mencoba menahan tangis.

Wajah Rusdi membayang di mataku. Rusdi, lelaki Batak yang supel dan ramah. Tubuhnya atletis. Dadanya bidang. Rambutnya ikal. Dan wajahnya mirip Richard Gere, meski berkulit agak gelap. Pekerjaannya juga lumayan. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta. Ia sukses menempuh cita-citanya sebagai anak dari keluarga miskin petani aren di Medan sana!

    Aku segera keluar dari kamar Ibu. Yang sedianya aku ingin memijiti kakinya, kali ini enggan! Ibu dengan penyakit jantungnya sering minta dipijat di bagian kaki, dan aku paling senang memijitinya karena Ibu akan diam saja sambil setengah mengantuk. Ibu akan tekun mendengarkan celotehku tentang teman-teman kampusku atau rekan-rekan kerjaku bahkan tentang laki-laki yang mendekatiku. Hingga ia tertidur. Ibuku sahabatku!

    Jam dinding sudah berdentang 5 kali. Artinya aku harus segera berangkat. Rusdi pasti sebentar lagi datang! Ia tetap bersikap jantan meskipun tahu Ibuku kurang menyukainya. Segera aku siapkan kaos dan celana jins yang akan kupakai. Rambutku yang baru saja di creambath kuikat separuh, separuhnya lagi kugerai. Kata Rusdi aku cantik jika diikat separuh seperti itu dan tanpa poni!

Tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku. Ia menatapku lekat-lekat seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Kuletakkan sisir.
“Bu, ada apa? Aku mau siap-siap, sebentar lagi Rusdi datang.”
“Jadi… kamu nekat membantah nasihat Ibu?”
“Bu…. aku mencintai Rusdi. Kami sedang mempersiapkan pernikahan!”
“Astaghfirullah! Kamu akan menikahinya? Tidak! Ibu lebih baik mati daripada bermenantu orang Batak!”

Duh, dadaku rasanya mau remuk! Ibu segera berlalu, masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Capek membantah, aku diam saja tak mengacuhkan. Kata-kata terakhirnya tadi mengganggu pikiranku. Diam-diam aku menelan ludah, menahan tetes airmata yang tertahan di pelupuk mataku.

Suara Rusdi mengucap salam mengagetkanku. Kutatap saputan bedak di wajahku terakhir kali. Aku keluar menemui Rusdi. Segera  kupamit pada Ibu.

“Bu, Rusdi sudah datang. Aku akan pergi Bu! Rusdi mau pamit!” Ibu tak menyahut. Tubuhnya tergolek menghadap ke tembok. Akupun diam saja sambil menutup kembali pintu kamar.
“Sudah, tak usah pamit. Ibu kurang enak badan.” Bisikku pada Rusdi. Aku hanya berpamitan pada adikku yang sedang membuka komputer. Pikiranku mulai tak karuan. Separah itukah kebenciannya pada Rusdi?

Pertunjukan dimulai tepat pukul tujuh. Penonton membludak, memadati gedung Graha Bhakti Budaya. Semua kursi terisi. Tata panggung begitu apik, artistik. Lampu-lampu penonton mulai dipadamkan satu persatu. Hanya tersisa lampu di bagian panggung. Terdengar nyanyian dalam iringan music etnis kontemporer sebagai latar belakang setting. Hatiku makin bergemuruh tak sabar menantikan kehadiran Butet sang aktor monolog.

Setengah jam kemudian, suara ponsel terdengar. Adikku mengirim pesan singkat. Mbak, pulang. Ibu kumat jantungnya. Begitu bunyi pesan singkatnya. Tanpa sadar airmataku menggenang. Aku berdiri panik. Rusdi ikut berdiri.

“Ada apa, Ar?”
“Ibuku, Ibuku…..” ujarku terbata-bata. Aku tak mampu menjelaskan. Rusdi ikut berdiri, menyusulku yang berjalan cepat meninggalkan arena pertunjukan. “Jantung Ibuku kumat!” sahutku tergesa. Rusdi segera membuka pintu mobilnya. Kami meluncur membelah keramaian kota Jakarta di malam Minggu itu. Kami melewati jalan tol. Rusdi mengemudi secepat kilat. Terbayang di mataku saat pertama kali Ibu kena serangan.

Oh, aku tak mau mengalami kejadian mengkhawatirkan itu lagi! Setibanya di rumah, segera aku menghambur ke kamar Ibu.

“Ibuuuu! Ada apa? Ma’afkan aku Ibu!”
Rasa bersalahku melebihi segalanya.
30 Desember 2009

(dimuat di majalah Kartini, Juli 2010)

Minggu, 28 Agustus 2016

Membaca Jangan Panggil Aku Penyair

Oleh Weni Suryandari

Membaca seluruh karya karya Muhammad Lefand yang tercantum dalam buku Jangan Panggil Aku Penyair (JPAP), maka benak kita dipengaruhi oleh berbagai penafsiran tentang seorang penyair Lefand, dengan segala pemikiran kritisnya. Buku yang memuat hampir 90 karya puisinya ini menyingkap berbagai hal menyangkut pemikiran  Lefand;  kondisi negeri yang sedang dalam suasana panas, yang umumnya di tulis dengan lugas, puisi religious yang ditulis dengan halus dan terasa efek estetis keindahannya saat membaca, juga tentang romantisme (perempuan, ibu).

Menurut Wellek dan Warren: bahasa sastra jauh dari sekedar referensial. Memiliki sisi ekspresif; ia menyampaikan nada dan sikap dari pembicara atau penulis. Dan itu tidak hanya menyatakan dan mengungkapkan apa yang dikatakannya; juga ingin mempengaruhi sikap pembaca, membujuknya, dan akhirnya mengubahnya. Theory of Literature, 3rd ed. (New York: Harcourt, Brace & World, 1956), pp. 20-28:

Jika kita membaca  beberapa puisinya, Lefand menulis sangat tegas dan lantang. Dalam hal ini, maka Lefand berhasil mempengaruhi pembacanya. Seperti dalam puisi Tarekat Cinta II  (saya kutip beberapa bait saja) yang diperuntukkan bagi perempuan yang ia cintai (?).

TAREKAT CINTA II

kasih, dalam cinta
tak ada kata menyerah
seribu kali disakiti
takkan luka hati

kau boleh sepuas-puasnya
melukai aku
tapi itu takkan menyurutkan
keikhlasan cintaku padamu

asal kau tahu
cinta ini bukan karena wajah
dan senyummu yang mempesona
tapi karena-Nya

kasih, jika nanti
kau melabuhkan cintamu
pada orang lain
takkan luntur sedikitpun cinta ini

kau sudah merasakan sendiri
ketenangan ketika bersamaku
matamu berkaca-kaca
dalam memandangku

………………………
Jember, 08-11-2014

Atau pada puisi berikut yang terbaca begitu satir dan menantang. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah orasi yang bisa jadi mempengaruhi pembaca untuk bertindak.
 
SALAM DUA RIBU

hai masyarakat Indonesia
salam dari saya
salam damai
salam dua ribu

mari dengan semangat
kita belajar blusukan
ke pasar
ke sekolah
ke sawah
kalau perlu ke rumah sendiri

mari kita kerja
kerja rodi
romusha
jangan takut mati
demi kemajuan bangsa kita
yang kaya sangat miskin
jangan lupa ibadahnya
agar penderitaan kalian dapat pahala

salam dua ribu
kita nyanyikan
di jalan-jalan
agar semua tahu
kalau rakyat Indonesia
bisa patungan demi kemajuan bangsa
tidak seperti negeri lain
yang suka mencuri kekayaan
negara lain
nyanyikan dengan semangat menolak lupa

Jember, 19-11-2014

Dalam konsepsi  Adonis, menulis puisi adalah untuk menggerakkan pembacanya agar berbuat sesuatu, memberi pembebasan dari belenggu kemapanan rezim (situasi politik sebuah Negara kerap membutuhkan para seniman dan penyair untuk mengubahnya).

Sampai pada tahap ini, maka puisi Lefand di atas cukup mewakili apa yang dikehendaki sebagai sebuah karya sastra. Terlepas dari apakah karya tersebut dianggap buruk atau tidak oleh para pembaca atau kritikus. Bagi saya pribadi, kemurnian dan kejujuran pemikiran seorang penyair lebih dikedepankan ketimbang harus menuruti keinginan pasar yang seringkali tidak kontekstual. 

Sejauh apa sebuah puisi bisa ditafsir dan dimaknai pembacanya secara tajam dan utuh? Sampai saat ini masih terdapat berbagai pandangan di kalangan masyarakat dan pemerhati sastra. Ada dua pendapat mengikuti penikmat (pembaca sastra) yaitu pertama, puisi yang ditulis dengan lugas dan lantang tanpa metafora lebih mudah diterima dan dimaknai oleh pembaca. Kedua, puisi yang ditulis dengan metafora, symbol, majas serta kehati hatian dalam penyusunan diksi bisa menimbulkan multi penafsiran, dan oleh sebab itu menyulitkan pembaca untuk memahaminya.  Apakah bisa menggerakkan?

Di atas semua itu, saya masih meyakini tentang keindahan sebuah puisi yang meski pun ditulis dengan lugas namun tetap memiliki keindahan.  Sebab I A Richard, seorang kritikus mutakhir Inggris ( Feb. 26, 1893 - Sept. 7, 1979, Cambridgeshire) berpendapat bahwa puisi melakukan fungsi terapi dengan mengkoordinasikan berbagai impuls manusia ke seluruh estetika, membantu kedua penulis dan pembaca menjaga psikologis kesejahteraan mereka. Principles of Literary Criticism (1924). Artinya puisi bisa mempengaruhi manusia secara afektif  selain hanya perubahan pengetahuan semata.

Pada puisi berikut, efek citraan dari perasaan penyair tersampaikan dengan indah.  Meski ditulis dengan lugas, namun citraan yang dibangun dalam kelugasan kata kata antara judul “BERITA DUKA” dan isi (tiga larik puisi) saling mengisi ruang makna di hati pembaca.

BERITA DUKA

daun gugur
ranting terbakar
pohon kehilangan akar

Jember, 28-02-2015


Sebagai alinea terakhir, izinkan saya mengutip kata kata bijak seseorang “kita memang tak pernah bisa memuaskan semua pihak”. maka segala kontroversi yang akan lahir sesudah sebuah karya (buku) puisi dilepas tentu menjadi tanggung jawab penulisnya baik secara akademik maupun moralitas (kejujuran gagasan).

Lefand,  jika kau tak ingin dipanggil penyair, berhentilah menulis puisi, tetapi gerakkanlah sebuah perubahan. Nah, bagaimana? Salam.


Bogor, 3 April 2015





BULAN PECAH

BULAN PECAH Alangkah tebal tanda seru untuk perasaan sebal saat bulan tidak lagi utuh, sedang dadaku butuh kemurnian jalan wirid ;kembali pada Hyang Pohon nyiur di Timur berkibas, masa silam tenggelam, bertunas, bunga kesadaran merebak. Para pandita berlayar melanjutkan doa-doa, barangkali kita sanggup melupa duka dan air mata negeri padahal kertap pada atap dadamu kerap berderap lebih mencekam serupa bulan pecah belingsatan bertaburan di laut.