Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

Telapak Kaki Ibu

Cerpen Weni Suryandari

IBU sudah pergi. Kamarnya kosong, dapur pun sepi. Darah kental menggenangi lantai semen, merembesi keset di depan kamar mandi. Suasana senyap mengepungku. Agaknya seekor burung gagak raksasa telah puas bermain-main di rongga kepalaku semalaman. Pagi ini kepalaku terasa bolong. Entah ke mana burung itu pergi! Mungkin membawa aroma kematian yang mampir saat dini hari tadi ketika sepasang telapak kaki ibuku yang halus dan indah ada dalam genggamanku. Guratan-guratannya begitu jelas, namun aku
tak menemukan ada surga di sana.

Rasa penasaran kerap menggerogoti pikiranku sejak aku masih kecil. Saat itu usiaku masih terlalu kanak-kanak untuk dapat memahami misteri surga di bawah telapak kaki Ibu. Telapak kaki ibuku jelas sangat halus dan terawat karena selalu menggunakan krim pelembab kulit kaki. Jika aku mengamati kaki ibu-ibu lainnya, yang kulihat hanyalah kulit tebal dengan tekstur pecah-pecah, bahkan bentuk kuku-kukunya berantakan seakan angslup kedalam jemari, namun tidak demikian halnya dengan kaki ibuku. Kuku-kukunya bersih dan indah, bahkan ia sering ke salon di kecamatan hanya untuk merawat kuku kaki. Tentu mahal sekali tarifnya!

Kuberitahu saja padamu, kawan! Ibuku cantik, kulitnya bersih, matanya indah, bibirnya mungil, hidungnya bangir. Keriput di pipinya tak begitu kelihatan meski usianya hampir mencapai separuh abad. Aku sangat mengagumi kecantikan ibuku. Beliau bagai bidadari dalam dongeng-dongeng bergambar dari luar negeri. Jika tersenyum, lesung pipitnya seakan terpasang dari surga. Aku mencemburuinya! Bagiku, ibuku sainganku, atau aku saingan ibuku. Begitulah, dibolak-balik sama saja. Nanti kau akan tahu juga, kawan!

Aku masih ingat ketika Bapak hendak menolongku dari serangan pukulan Ibu yang bertubi-tubi di kedua betis dan punggungku hingga membiru. Seringkali bilur-bilur merah terlihat jelas bekas sabetan sapu lidi. Aku menahan isak di pojok ruang makan, menggigil ketakutan sebagai bocah polos yang tak berdaya.

Bapak membentak Ibu sambil menyeretku menjauh, menghindarinya. Sebenarnya ada Bapak atau tidak ada Bapak, siksaan tetap saja menderaku. Apalagi jika Bapak kembali bekerja di Hongkong sebagai supir TKI, aku dan Ibu hanya berdua saja di rumah yang sederhana itu. Siksaan dan makian adalah selingan makan tiga kali sehari.

Sesudah meluapkan emosinya, biasanya Ibu kelelahan dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Wajahnya memerah, matanya lebih merah lagi. Tapi herannya, ia pantang menangis. Seakan puas setelah menyiksaku, meskipun belum benar-benar jelas apa kesalahanku. Pernah aku tak sengaja menumpahkan segelas coklat panas yang akan diminumnya, kejadian itu sangat membuatnya marah besar. Bukankah mudah baginya untuk membuatnya lagi? Ia bisa menyuruhku membuatkannya. Padahal masih ada satu dus susu coklat lagi di dapur.

“Anak tidak tahu diuntung! Kamu tahu? Pemberian siapa susu coklat ini? Kalau ibu membeli sendiri tak akan mampu. Apalagi bapakmu yang tidak berguna itu! Memberi anaknya makan saja tidak becus!” begitu bentaknya sambil memukuliku. Ia tak peduli apakah Bapak mendengar umpatannya.

“Ampun Bu, aku tidak sengaja. Tadi kan…,” belum sempat aku menjawab, Ibu sudah akan mengangkat sapu ijuk untuk memukulku.
“Jangan membantah! Kamu memang tidak becus apa-apa! Tidak berguna! Setan!”
“Aku bukan anak setan Bu! Aku anak Ibu!” isakku sambil mengelus-elus kepalaku.

Ah, rasanya aku ini memang benar-benar anak setan, anak anjing atau anak haram seperti yang selalu diserapahi Ibuku. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Tapi aku tetap harus mendarma-baktikan seluruh hidupku untuknya, bukan? Begitu petuah guru Agama di sekolahku.

“Uh, kalau saja dulu Bapakmu tidak menikahi perempuan itu, tentu kau tak akan dilahirkan!”  Aku diam menahan gemetar, sambil bertanya-tanya maksud perkataannya.

Setiap pulang sekolah, aku selalu melihat ibuku baru selesai berdandan. Rapi dan wangi! Biasanya ia akan segera keluar rumah. Pergi menemui pelanggan, katanya. Mereka pelanggan dagangan Ibu. Aku tak tahu Ibu berdagang apa, sebab aku tak pernah melihat Ibu membawa sekeranjang barang seperti umumnya pedagang. Ah, mungkin Ibu punya sepetak toko di suatu tempat. Jika aku bertanya, ia akan membentak, “Kau tak perlu ikut campur!”

Ibu selalu pulang lewat tengah malam dengan wajah kusut. Tubuhnya beraroma campur-campur. Bukan bau parfum atau bau badannya. Bau yang tidak aku kenal. Entah bau apa aku tak terlalu mengendusnya, sebab Ibu akan langsung menuju kamarnya dan tertidur pulas. Aku hanya mengintip dan membuang sisa susu coklat kegemarannya yang kubuatkan. Percuma, sudah dingin. Jika didiamkan sampai besok pagi pastilah basi.

“Zainab, mau kemana malam-malam?” tanya Ibu sore itu. Ia melihatku keluar kamar hendak menonton sebuah film yang diputar di lapangan depan kantor Kepala Desa. Ibu agak terlambat pergi ke tokonya.
“Mau ke lapangan Bu. Ada pertunjukan film, hiburan gratis dari Pak Kades.”
“Ganti bajumu! Jangan memakai baju itu.”
“Kenapa Bu? Ini baju kiriman Bapak dari Hongkong. Kaos bagus Bu!”
“Ganti!!! Pakai ini!” Ibu meletakkan kaos loreng abu-abu di kursi ruang tamu. Kaos yang biasanya kupakai untuk tidur atau beres-beres rumah.
“Bu, ini baju rumah, baju tidur, sudah kumal pula!”
“Ah, ganti kataku! Baju biasa saja, tak perlu pakai baju bagus. Kamu genit ya???”

Aku tak heran. Setiap saat Ibu selalu mengatur penampilanku, dengan alasan tak boleh tampak genit. Padahal di masa remajaku aku ingin tampil gaya. Aku ingin seperti teman-teman, sebab aku juga bukan keluarga tak mampu. Rumahku, meski sederhana tapi tergolong cukup besar. Bapak selalu mengirimi kami uang atau oleh-oleh baju meskipun kadang-kadang dipakai Ibu.
Sepulang dari lapangan, aku diantar oleh laki-laki yang kuakui sebagai pacarku. Setidaknya begitulah menurutku, sebab kami berdua terbilang dekat. Apalagi ia pernah menciumku di suatu malam sepulang pesta ulang tahun Surtini anak kepala desa.

Saat itu Ibu belum pulang dari tokonya. Pardi, demikian namanya, duduk sebentar menunggu kedatangan Ibu.

“Ibu baru pulang berdagang nanti malam…” Pardi diam. Ia menangkup rapatkan kesepuluh jemarinya dan menggeretakkannya. Jari-jarinya terlihat kokoh dan besar.
“Berdagang? Sampai larut malam? Di mana tokonya?”
“Entahlah. Dagangan Ibu banyak. Hampir setiap hari Ibu pergi ke tokonya.“
“Sampai larut malam begini belum pulang dari toko?” Aku tersenyum kecut.
“Kamu tentu bangga sebagai anaknya! Ibumu pekerja keras,” lanjutnya.
Anaknya? Tapi aku diperlakukan bukan seperti anaknya.
“Aku tak pernah diajaknya, Mas. Aku harus membereskan rumah setiap pulang sekolah. Kasihan Ibu, terlalu capek mencari uang. Kalau rumah berantakan ia akan marah-marah.”
“Bapakmu?”
“Oh. Bapakku bekerja di Hongkong, TKI.”
“Oh…,” Pardi menatapku tajam. Kepalaku berdenyut penuh keraguan terhadap ihtikad baik Pardi. Untuk bersikap kurang ajar kepadaku, rasanya tak mungkin.

Pardi Sunta adalah seorang pemuda tampan. Tubuhnya atletis, berkulit bersih. Ia rajin menjemputku sepulang sekolah. Rumahnya hanya berjarak lima petak sawah dari rumahku. Sekolahnya terletak lebih jauh dari sekolahku, jika berangkat atau pulang ia pasti akan melewati sekolahku. Kadang-kadang ia menungguku di pintu gerbang sekolah. Ia sengaja mengajakku pulang bersama-sama.

Suara jengkrik dan rerimbunan pohon tertiup angin menggigilkan senyap yang semakin malam semakin mencekam. Aku tak tahu harus berkata apa pada lelaki ini.

“Zainab, kamu anak tunggal?“ ucapnya membuka pembicaraan.
“Iya Mas. Kata Ibu aku pernah punya kakak, tapi meninggal dalam kandungan.”
“Oh,“ ia terdiam. Matanya menerawang, sebentar-sebentar ia menatap arlojinya.
“Apa ibumu tidak marah jika aku bertandang ke sini, Nab?”
“Biasanya marah, Mas. Ibu tak senang aku bergaul dengan laki-laki, Ibu terlalu sayang padaku,” sahutku gugup.
“Kalau begitu aku pulang saja ya?A ku tak mau kamu ada masalah dengan ibumu.“
“Terima kasih Mas,“ antara lega dan menyesal aku mengucapkan kata itu.
Terdengar suara selop Ibu yang diseret, membuka pintu pagar. Rasanya hari belum terlalu larut, tetapi mengapa Ibu sudah pulang?
“Naaab! Zainab! Ada tamu? Tamu Ibu?” terdengar suaranya yang serak.

Aku tersentak, tahu ibuku akan sangat marah! Bisa-bisa aku ditamparnya di depan Pardi, lalu menjambak rambutku dan mengusirku dari ruang depan agar segera ke dapur, dengan cacian yang lebih sadis dari biasanya. Sudah tiga kali aku mengalami kejadian serupa. Dulu Sudiono, teman SD-ku, lalu Fransiskus, siswa SMP Katolik di kota, lalu Pambudi, tetanggaku di dusun sebelah. Oh, jangan terjadi lagi yang keempat! Palu besar mengetuk-ngetuk rongga dadaku keras sekali!

Segera kubukakan pintu dengan jantung seakan mau copot!
Wajah Ibu tersembul penuh senyuman. Baru kali ini kulihat Ibu tersenyum. Meski pun senyum itu bukan untukku. Oh, betapa cantiknya! Pardi berdiri hendak menyalami Ibu. Ibu tampak ramah, memasang senyumnya tanpa melepaskan genggaman jabat tangan Pardi. Ibu menatapnya tak berkedip. Palu di dadaku berhenti mengetuk. Kini dadaku menyemburkan api. Aku tahu arti tatapan Ibu!

“Hm, siapa namamu anak muda?”
“Pardi, Bu. Saya sekolah di SMA dekat sekolah Zainab.”
“Oh. Dekat sekolah Zainab? Sudah lama di sini? Ayo, silakan duduk. Maaf, Ibu ke belakang dulu ya?”

Pardi tersenyum, aku tersenyum, sementara api di dadaku meletup-letup, tubuhku melunglai.

Ibu berlalu dari hadapan kami. Gerakan tubuh Ibu yang gemulai meninggalkan aroma macam-macam. Aku tak hafal aroma itu. Entah parfum, atau minuman beralkohol, atau keringatnya yang wangi! Pardi duduk kembali dengan mimik wajah salah tingkah.
“Sstt, Zainab! Rasanya aku sering melihat ibumu di sekitar kota, dekat pasar Permai. Aku sering membuntuti Pak Imam, Pakdeku jika disuruh oleh Budeku. Ibumu hebat!”
“Pasar Permai? Mungkin toko Ibu terletak di situ...?”

Pardi meletakkan telunjuknya di bibirnya. Aku terdiam dan bingung. Ibu punya toko di dekat pasar Permai. Apa yang membuat Pardi menjadi penuh rahasia?
“Aku pamit ya. Sudah malam,“ ucapannya mengejutkanku.
“Salamku buat ibumu. Pasti beliau kenal Pak Imam, itu langganan Ibumu,” Pardi tersenyum penuh arti. Bukan sesuatu yang menarik hatiku, tetapi lebih menyerupai seringai yang membuat tubuhku kian mendidih.

Segera kututup pintu pagar. Deru motor Pardi meninggalkan kebingungan yang dahsyat di kepalaku. Ibu bekerja di Sarkem.

Sejak malam itu Pardi tak pernah lagi menjumpaiku. Hingga aku menamatkan sekolahku. Mungkin ia malu berteman denganku. Ibu juga jarang keluar rumah. Ia hanya sesekali saja ke pasar dalam sepekan. Aku pun jarang dipukulinya lagi. Ibu tampak lebih pendiam dan bermulut manis. Beberapa kali sudah kupergoki Ibu menyimpan seorang lelaki di kamarnya. Aku tahu dari tawa dan desahan mereka.

“Ah, Pardi. Terus cah bagus… terus…!”

Ah, sebatang palu besar mengetuk-ngetuk rongga kepalaku. Kujambak rambutku. Bibirku gemetar, gigiku gemeretak.[]

Januari 2011




   

Perawan Emas

Cerpen Weni Suryandari
            
Berapa harga tubuh seorang perempuan jika harus menikah atas nama harta atau balas budi? Jika pernikahan dilakukan atas dasar perjodohan, apakah akan tetap bahagia sepanjang usia? Setidak-tidaknya kini aku tahu, bahwa harga seorang perempuan itu tidak ternilai. Meski pun ia bagai seekor burung berkaki indah, berbulu cerah, di dalam sangkar emas.

Cerita cerita tentang perjodohan begitu banyak terjadi. Maka jika kelak kalian menemui cinta, peliharalah, sebab cinta itu kesetiaan dan pengorbanan. Terdengar bodoh, tetapi itulah
yang terjadi padaku!

Sejak takbir pertama Maghrib, seluruh penghuni rumah besar ini bersiap melaksanakan shalat berjama’ah, di mushalla keluarga yang terletak di kebun belakang. Angin senja menyeruakkan aroma kenanga, melati dan sedap malam disudut teras, juga dari gazebo yang menaungi jarak dari rumah induk ke mushalla. Mas Setyo, kepala keluarga mengimami kami semua dengan khusyuk. 

Usai shalat, kembali kami masuk ke kamar masing-masing dan segera berganti pakaian. Sanggul modern dan melati pesanan sudah kusematkan dengan kuat. Segera aku keluar dari kamar dan menanti siapnya seluruh keluarga besar untuk berangkat ke pesta. Aku tak ingin melihat  Mbak Hara begitu cerewet dalam mengawasi setiap penampilanku. Ajang ke pesta, entah resepsi pernikahan atau syukuran, adalah ajang pamer kekayaan, menurutku. Untuk hal itulah Mbak Hara selalu cerewet ~perempuan~ harga diri! 

Mbak Hara terlihat gusar. Ia melangkah mondar-mandir sambil memencet-mencet nomor telepon, menelepon adik-adiknya yang tinggal di wilyah lain agar segera bersiap-siap. Resepsi pernikahan keponakan sepupunya akan segera digelar di sebuah hotel berbintang lima. Semua adik-adiknya diberi perintah (kukatakan perintah) untuk berseragam kebaya marun dengan payet di bagian leher. Perintah selanjutnya, jangan lupa siapkan amplop dengan jumlah uang sekian dan sekian, jangan bikin malu keluarga besar, pakai baju yang kemarin dibelikan di butik ini dan butik itu, jangan lupa perhiasan ini dan itu dipakai. Intinya, jangan membuat malu keluarga. 

Aku menunggu dengan sabar. Kulihat tas mewah untuk pesta serta perhiasan sudah memenuhi pergelangan tangannya. Sebuah berlian besar yang dibelinya di Itali melingkari  dadanya. Indah dan mewah berkilauan. Mbak Hara menatapku lagi dan lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sanggulku pun ikut diperiksanya juga leher, tangan dan kaki. Ia hendak memastikan apakah aku telah berdandan sesuai dengan penampilan seorang aristokrat. Puihh! Demi kemiskinan yang kuwarisi turun temurun, inilah aku dalam kepahitan abadi.

Langkah suamiku terdengar, suara langkah yang tidak harmonis antara kaki kanan dan kiri. Kulihat ia menyembul dari balik kamar, berjas hitam, berdasi merah dan sepatu hadiah dari sang kakak, Hara Setyo Adi ketika ia sekeluarga bertamasya ke Paris.  Ya, suamiku adalah adik kesayangannya, adiknya yang kurang waras diumpankannya padaku yang ingin mengakhiri kemiskinan. Puihh! Biaya rumah tangga kami ditanggung seluruhnya oleh Mbak Hara, si sulung dari keluarga besar keturunan bangsawan dari Sumenep. Begitu pun rumah keluargaku di desa yang sudah reyot dan “bukan rumah” katanya, dihancurkan dan disulapnya menjadi rumah mewah berdinding beton dan bermodel masa kini, “model Spanyol” katanya. 

“Tin, bagaimana penampilanku? Keren? Keren kan?” Mas Adi mematut-matut diri di depanku.  

Sumpah demi Tuhan aku tetap melihatnya aneh. Giginya yang rusak dan kepalanya yang selalu bergoyang-goyang mendongak ke atas tanpa kontrol, mana mungkin bisa kubilang keren? Sudah dua tahun aku hidup dalam kemewahan, kemanjaan darinya dan dari keluarga besar, belum ada tanda tanda aku merasa jatuh cinta padanya!

“Keren, ganteng Mas! Sini,duduk di dekatku!” aku menyilakannya untuk duduk di sampingku. 

Mbak Hara tersenyum puas, senang melihat adiknya diperlakukan mesra. Ia kerap mengatakan padaku bahwa dengan pelayananku yang baik, adiknya akan berangsur-angsur normal kembali. Kuanggukkan saja kepalaku saat itu demi bujukan untuk mengangkat nasib keluargaku dari kemelaratan.

“Ayo,kita berangkat!. Ingat, jangan bikin malu! Semua harus menyapa kerabat. Ingat, ini pertemuan silaturrahim dalam bentuk resepsi pernikahan. “ Ujarnya sambil membetulkan tasnya dan memeriksa amplop. Mulutnya tak henti mengeluarkan kata “ingat!”.

“Ini amplopmu, Tin! “ Ia serahkan sebuah amplop putih. Kubuka isinya, lima ratus ribu untuk tanda kasih bagi pengantin. Jumlah yang luar biasa jika dibandingkan dengan selamatan ala kadarnya di desaku. Desa yang dihuni oleh keluarga miskin, keluarga nelayan.

“Ingat! Kasih tulisan ‘Dari keluarga Permadi dan Martinah’ begitu!” Aku mengangguk seraya mencari pulpen sambil berjalan menuju mobil. 

Mbak Hara dan Mas Setyo duduk di depan, Mas Permadi dan aku duduk di belakang. Ia menggenggam tanganku. Aku dibuatnya repot, sementara aku harus menuliskan ucapan selamat dan tanda tangan pada amplop.

“Sebentar Mas, aku menulis ucapan dulu.” Ia lepas tanganku, sambil memandang keluar. Kepalanya bergoyang-goyang seperti biasanya. Kadang mengeluarkan suara hentakan entah apa. Tak begitu jelas. Kadang seperti bergumam sesuatu, juga tak jelas. 

“Sudah ditulis, Tin? “ 


“Sudah, Mbak. “ Mbak Hara segera mematikan lampu, mobil segera melaju menembus kepekatan Jakarta. 

Kembali tangan mas Permadi mencari tanganku. Ia tak pernah bisa melepas tanganku jika sedang duduk berdampingan seperti ini.  Suasana begitu tertib terjaga. Mbak Hara adalah seorang perempuan yang baik sebenarnya. Ia menyayangi seluruh keluarga dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Suaminya, adalah seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah. Hidupnya begitu berkelimpahan harta. Setiap tahun ia selalu mengajak adik-adiknya untuk melakukan umroh bersama. Sepanjang tahun ia bisa beberapa kali berlibur di luar negeri. Bagiku, seakan-akan Mbak Hara tak akan pernah jatuh miskin. Mungkin Tuhan sudah melempar koin kaya untuknya dan koin miskin untuk keluargaku. 

Keluargaku memiliki warisan kemiskinan yang tidak terampunkan. Sebagai anak sulung dari tiga saudara laki-laki, aku harus bekerja keras membantu Emak berjualan kue di pasar. Demi menyekolahkan adik-adikku yang katanya mesti sekolah tinggi karena mereka anak laki-laki, aku dipaksa untuk berhenti sekolah oleh Bapak dan membantu berjualan kue hingga datang jodohku.

Jodoh? Bagiku jodoh tidak pernah ada. Cinta? Apalagi cinta! Aku tak pernah jatuh cinta. Cinta sama menjijikkannya dengan kemiskinan. Siapa laki-laki yang bisa menaklukkan karang hatiku? Laki-laki pedagang pisau, tukang tambal ban, tukang servis jam atau penjual petis?  Laki-laki seperti itulah yang sering kutemui di pasar setiap hari. Bukan mengubah keadaan malah akan memelihara kemiskinan. Selamanya hidup kami tidak akan terangkat.

Kini lihatlah, dua pasang gelang emas berukuran besar melingkari pergelangan tanganku. Seuntai kalung emas berliontin berlian berbentuk hati menghiasi  dadaku. Kebaya modern dengan payet mahal dan kain sutra melekat di tubuhku. Wajahku kian cantik, dirias oleh perias handal, langganan Mbak Hara yang sengaja dipanggil ke rumah. Jangan tanya dimana aku tinggal: di rumah Mbak Hara! Rumah yang luasnya seperti sepuluh kali lipat besarnya dari pada rumah Ibu di desa. Bentuk bangunan yang mewah dan bergaya Spanyol. Kamar yang mewah, berpendingin dan lengkap dengan kamar mandi marmer. Persis seperti yang kulihat dalam sinetron televisi. Hebat, bukan?

“Tin, siap-siap, sebentar lagi sampai.” Ujar Mbak Hara memecah lamunanku.

Kubetulkan kembali kainku, kebayaku dan tas tanganku sebelum melangkah. Mas Permadi menggandeng tanganku. Berempat kami melewati para among tamu. Semua berebut hormat pada Mbak Hara dan Mas Setyo suaminya, tapi tidak padaku dan suamiku. 

Permadi berkali-kali merangkulku di suasana pesta, aku menolaknya! Ia marah dan tak terkontrol. Kubentak ia dan kusorongkan sebuah garpu tepat di depan perutnya, sekadar mengancamnya. Rambutnya yang gondrong berkilauan penuh uban, bergoyang-goyang. Demi Tuhan, aku tidak mau dibuat malu! 

Sepulang pesta, aku merasa sunyi. Malam kian larut, jalanan di Jakarta masih ramai. Suamiku semakin menjadi-jadi, kepalanya mendongak- dongak tak terkontrol, ceracaunya kian tak terkendali. 

“Kalau saja bukan karena Hara, aku tidak mau menikahimu! “ Teriaknya sambil menangis. Aku terkejut! 

“Maksudmu? “ Kataku berbisik.

“Karena Mbak Hara membeli keluargamu dengan harta berlimpah! Akui saja!. Bilang pada Mbak Hara bahwa aku belum pernah menyentuhmu! Bilang padanya bahwa kau jijik padaku. “ Dadaku berdegup turun naik, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tanganku gemetar ingin menampar mulutnya. Lelaki tidak waras ini, suamiku ini, kata-katanya membuatku hancur!

“Apa benar Tin? Kamu tidak pernah tidur dengan Permadi?” Suara Mbak Hara terdengar dingin dan kejam.

Air mataku berjatuhan, bibirku gemetaran. Ingatanku kembali pada kamar kami:  kaca rias yang ditinjunya saat aku hanya berdiam di pojok tempat tidur. Pintu lemari yang rusak ditendangnya, cakaran di punggungku yang masih membilur bekas luka, semua tergambar jelas. 

“Martinah tidak mau tidur denganku, Mbak! Ia tidak mau kusentuh!” Permadi memukul-mukul wajahnya sendiri. Sesekali ia meninju-ninju jok belakang.

“Kenapa kau tidak mau, Tin? Padahal itu akan menyembuhkan adikku. Seorang istri akan berdosa besar jika ia durhaka kepada suaminya! Kamu tidak ingat pemberianku pada keluargamu? ….” Kata demi kata dan semua celotehan itu terus bergema.

 Sanggulku berantakan, melati terurai dan terlepas dari roncenya. Tangisku kian lepas. Aku berlari seturunnya dari mobil. Menuju kamar dan berkemas. Neraka ini harus kutinggalkan!


Maka di sinilah aku kini, bersama setiap kenangan yang kularung ke laut, bersama pasir pantai yang sesekali datang dan pergi. Jika kalian datang ke kampungku, kalian akan bertemu denganku di pojok jalan dekat taman rekreasi Lombang,  sambil melayani pembeli. Aku akan ceritakan kejadian sesungguhnya, selengkap-lengkapnya!  

Jati Asih, 2009 - 2016 

Terbit di  Minggu Pagi, 9 September 2016

Senin, 05 September 2016

Warisan

Cerpen Weni Suryandari

ENTAH apa yang telah dialami hidup lelaki renta itu sebelum maut menjemputnya. Tak ada tangis sanak keluarga, tak banyak yang mengantar jenazahnya menuju liang lahat. Bahkan untuk menurunkannya dari kurung batang pun, anak-anaknya, cucu-cucunya tak ada yang ikhlas melakukannya. Dengan tatapan datar mereka menyaksikan tubuh lelaki renta itu dalam balutan kafan. Diturunkan dengan susah payah, dibuka penutup kepalanya, agar wajahnya dapat mencium tanah. Begitu sulitnya diposisikan untuk mencium tanah. Tubuh gemuk dan perut gendutnya menghalangi.

baca selanjutnya: 

Kemarin petang, langit mencekam. Ketegangan meliputi rumah kuno dan kusam itu, rumah keluarga Tajudin. Satu-satunya rumah yang tergolong mewah dan berdiri kokoh dengan luas yang layak dianggap sebagai keluarga berkecukupan di antara rumah-rumah tetangganya yang kecil, yang rata-rata luasnya hanya sepetak. Lelaki renta itu menghembuskan nafas terakhirnya tanpa seorang pun tahu. Hanya Ruminem, istri mudanya yang mengabarkan kematiannya kepada anak-anaknya. Beberapa tetangga, termasuk Pak RT telah bersusah payah menggotongnya dari kamarnya di lantai atas menuju lantai bawah. Jenazah dibaringkan di kamar tidur tamu, sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang tamu.

Suasana duka tak nampak dari raut muka ke delapan anak-anaknya. Empat laki-laki dan empat perempuan. Dua orang cucunya yang bersekolah di pesantren, saat hendak membacakan surah Yasin dihalangi oleh Uwak dan Bibi-nya. Tiga cucu lainnya yang masih kecil berlarian dan bercanda di sekitar jenazah dan sesekali merengek minta dibuatkan susu. Tak ada surah Yasin, tak ada tahlil bergema di rumah duka. Sunyi. Sunyi semata dari kalimatNya.

Jenazah Tajudin, sang Bapak dibiarkan teronggok di ruang tamu. Bau tidak sedap menguar di ruangan itu. Wewangian, kapur barus, dupa dan bubuk kopi diletakkan di keempat sudut pembaringan jenazah. Es balok besar besar ditumpuk di dua baskom besar dan diletakkan di kolongnya. Namun bau itu tetap menguar. Sesekali tetangga datang melayat, membuka tutup wajahnya dan menutupnya lagi. Bisik-bisik aneh terdengar di antara mereka sekeluarnya dari ruang duka.

Beberapa tetangga hanya berdoa sekadarnya, lalu keluar lagi. Kerabat hanya datang satu persatu, tak lama, lalu pulang. Sunyi. Sepi. Hingga subuh menjelang, semua anak-anaknya melakukan shalat di beranda belakang yang menghadap rerumputan dan ditumbuhi beberapa pokok pohon mangga.

Matahari jelang pukul 8, Pak RT datang. Ya, telah menjadi kewajibannya mengurus warganya yang meninggal. Agus, meski bukan putra sulung, menemuinya.
“Bagaimana, Pak? Jam berapa mau dimandikan? Disholatkan di mana?”
“Saya harus tanya adik-adik saya dulu, Pak. Mau disholatkan atau tidak?”
Pak RT terperanjat.
“Bukankah… bukankah Bapak Tajudin beragama Islam?”
“Saya tidak tahu agamanya, Pak RT. Sebentar saya tanya adik-adik saya dulu.”
“Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak Agus. Kalau ada kabar apapun, segera beritahu saya.”

Pak RT berlalu dengan senyum mafhum. Bagi Pak RT, Tajudin adalah laki-laki yang terlalu pongah untuk mengalah pada tetangga. Perseteruan tentang batas saluran got, batas pagar, dan sebagainya selalu menggantung tak terselesaikan. Begitu juga tentang iuran sampah, iuran keamanan dan perbaikan jalan. Begitu pula jika ia kedapatan menggoda pembantu-pembantu tetangga. Anak-anaknyalah yang selalu meminta maaf atas kerusuhan yang dipicu oleh Tajudin.

Pertengkaran demi pertengkaran dalam keluarga Tajudin kerap terdengar. Apalagi sejak laki-laki tua itu menikahi pembantunya yang bahkan usianya jauh lebih muda daripada putri bungsunya, Yanti. Tak ada yang bisa mencegah bisik-bisik seputar rumor pernikahan luar biasa itu. Bahkan seorang anak telah lahir dari pernikahan keduanya, meski semua meragukan apakah Tajudin masih bisa….

Semua berkumpul di ruang belakang sembari sarapan. Tak ada yang berani memulai membuka perundingan tentang apa yang harus dilakukan dengan jenazah Bapaknya.

“Mau dikubur di mana tuh Papi?” Agus yang dituakan dan dianggap paling terpelajar membuka percakapan.
“Tak usah dikubur, buang saja ke jurang,” Godet, sehari-harinya bekerja sebagai Satpam menyela. Wajahnya tersenyum sinis.
“Hahaha, suruh jalan sendiri saja ke pemakaman,“ Idham menambahkan.
“Ngaco! Ya dikuburlah, daripada bikin susah cari jurang!“ Ipat menyela. Ia masih ingat makian Bapaknya beberapa kali, bahwa ia dicoret dari daftar anak, lantaran menikah dengan seorang marinir.
“Nyatanya, jika Papi mengeluh ada yang mengancamnya dengan senjata atau mengajaknya berkelahi karena pertengkaran kata-kata, suamiku yang datang melerai dan membela. Beberapa kali Bang Edo datang untuk menenangkan hati warga yang sakit hati sama Papi.”
“Heeehh, dengar ya! Dia sendiri yang bilang, nggak usah repot-repot ngurusin kalau dia mati! Kan kita semua sudah di-‘durhaka-durhakain’, diusir-usir dari sini!” Idham menyela lagi.
“Hihihi. Bapakmu itu memang antik. Kita diumpat-umpat, dikata-katai anak durhaka semua. Bukannya dia yang durhaka sama kita, anak-anaknya? Sekolah aja biaya sendiri. Susaaaaah sekali!” Titin menyahut sambil terkekeh.

Mulutnya sibuk mengunyah ikan asin, sambil sesekali menyuapi anaknya. Bagaimana pun ia ingat betul kebiasaan bapaknya mengusirnya dengan menyebut-nyebutnya anjing, anak durhaka, tidak tahu berterima kasih, lantaran ia pernah sekali saja menyuruh Bapaknya sholat daripada mengumpat-umpat pemuda tetangga yang menantangnya berkelahi. Hanya karena persoalan sepele, pemuda itu menyatakan telah lulus kuliah dan memamerkan ijazah sarjananya.

“Tanya tuh Pak RT. Dia tahu kejadian itu. Memalukan!” imbuh Titin.
“Aku tidak mau ikut ambil keputusan. Susahnya ke kita, senangnya ke dia, perempuan sundal itu!“ Titin menambahkan lagi. Istri muda Tajudin, Ruminem belum juga muncul dari dalam kamarnya. Sejak semalam, ia tidak mau keluar dan hanya memeluk anaknya di lantai atas.
“Heiii, anjing sundal! Keluar kamu! Urus tuh mayat lakimu! Jangan cuma nunggu warisan!” Jamilah memanggil istri muda Tajudin sambil memaki. Suaranya yang serak terdengar keras sembari melongok tangga ke ruang atas.
“Sstt, jangan begitu! Malu sama tetangga!” Agus menenangkan.
“Biarin aja. Harta Papi habis dijual buat ‘anjing’ itu! Harta Mami semua itu!” bantahnya lagi.
“Itu ‘anjing’ sudah dapat bagian banyak dari warisan Mami, belum lagi uang pensiun yang lumayan besar. Padahal dulu gaji Mami habis buat makan kita dan uang sekolah!” Idham tak kalah keras.
“Ya betul! Tidak ada contoh baik dari Papi kita! Sama sekali tidak ada,“ Godet menambahkan sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Agus mengangguk mengiyakan.

Yanti anak bungsu Tajudin yang baru saja melahirkan anak kedua segera ikut bicara.
“Coba deh Kakak pikir. Setiap Papi dapat gaji ketiga belas, sama sekali tak pernah memberi sama cucu-cucunya. Belum lagi waktu tanah dan sawah Kerawang dijual, kita semua cuma diberi dua juta. Ratusan juta diambil sama si anjing itu.”
“Anjing itu biang keroknya. Sejak kawin sama dia, harta Papi dan Mami habis. Padahal itu punya kita. Kalau kita sakit minta uang untuk ke dokter saja tidak pernah diberi!” Idham menambahkan.

Suasana selalu menegang jika membahas soal harta warisan mendiang Mami dan Papi, pasangan Tajudin. Apalagi jika Idham, Jamilah dan Godet ikut bicara. Anak-anak lainnya kebanyakan diam dan enggan berkomentar. Bahkan bersembunyi di kamarnya, ketakutan jika mendengar suara-suara gelas dibanting dan pecah berantakan. Semua terjadi jika ada pertengkaran antara Tajudin dengan anak-anaknya. Tangis ketakutan dan bantahan mereka hanya berani disampaikan dalam pembicaraan antar anak-anaknya jika keributan berlalu. Bukan kepada sang Papi.

“Papi kok dilawan? Dasar anak tidak tahu berterima kasih. Tidak tahu adat. Anak durhaka kalian semua! Siapa yang berani melawan Papi? Sini! Gua bacok-bacokin lu! Ingat nggak papi sering ngomong begitu?” Ipat menambahkan. Yang lain mengangguk setuju.

“Si sundal Ruminem yang menggerogoti,” Jamilah menyahut.
“Jadi bagaimana ini? Sebentar lagi Pak RT datang. Papi mau dimandikan,” tanya Agus.
“Ya sudah! Aku sih tidak mau memandikannya!” Titin menyahut, Jamilah mengangguk.
“Jangan begitu, kita kan anak-anaknya? Masa tidak mau memandikan?“ tanya Agus lagi.
“Apa dulu waktu kita lahir diazankan? Rasanya tidak! Aku juga tidak mau menyholatkan, kan Papi sendiri bilang agamanya suka-suka kalau aku berangkat ke masjid. Orang tua gila!” Idham menyela.
“Kita semua nggak ada yang bisa membaca Al Qur’an. Kita semua ditertawakan jika memamerkan bacaan Al Fatihah di depannya,” Ipat menambahkan.
“Ya, puasa pun tidak pernah! Lebaran mau bermewah-mewah, buat sombong-sombongan saja!”
“Mami tidak pernah bahagia. Mami menderita karena Papi selalu menggoda setiap pembantu yang kerja di rumah kita,” Titin menyela.
“Apalagi kalau Mami sholat, ditendang pantatnya suruh cepat selesai karena minta dibelikan nasi goreng. Padahal dia baru habis makan. Untung Mami sabar!” Jamilah menambahkan. Istri Idham yang sedari tadi diam mendengarkan terkejut. Matanya merebak duka. Jilbabnya dibetulkan. Istri Agus pun yang berprofesi guru tak kalah bersedih. Ipar-ipar laki-laki berada di beranda depan menunggui tetangga yang datang melayat.
“Mami begitu sabar. Aku sayang sekali pada Mami,” sahut istri Agus
“Bersyukur semua menantu-menantunya orang-orang yang lembut, dan dibesarkan oleh orang tua yang benar,” lanjut Jamilah.
Semua menantu Tajudin memang tak pernah bersuara. Selama ini mereka hanya diam, tak pernah membela suami atau istrinya jika kedapatan dimaki-maki kasar di depannya.
Pukul 9 menjelang. Pak RT datang lagi.
“Pak Agus, apa sudah mengambil keputusan? Sebentar lagi tukang mandi jenazah kami panggil. Ustadz yang biasa mengajar ngaji anak-anak di masjid.”
“Ya, Silakan Pak RT. Mandikan saja. “
“Mau disholatkan di mana? Rumah atau masjid?”
“Hmm… di masjid saja, Pak RT.”

Pak RT segera berpamitan dan bersiap memanggil tukang mandi mayat. Ruminem muncul. Wajahnya cukup bersedih. Sembari menggendong bocah lelaki berusia dua tahun ia menghampiri jenazah Tajudin. Dibukanya penutup mukanya sejenak. Lalu ditutupnya lagi. Bocah dalam gendongannya merengek minta dijauhkan dari situ.

Menjelang zhuhur, jenazah sudah dikafankan. Lalu beberapa orang menggotongnya menuju masjid. Agus, istrinya dan menantu-menantu lainnya ikut ke masjid dan menyholatkannya. Adik-adik dan seorang kakaknya tidak ikut mengantar. Mereka hanya menunggu di mobil dan bersiap memberangkatkan jenazah Tajudin ke pemakaman.

“Aku tidak akan pernah lupa diusir dan dinyatakan di atas kertas dihapus dari daftar anak! Bahkan sampai diberi materai! Jadi bahan tertawaan semua orang yang pernah dia ceritakan. Padahal kalau dia sakit pasti aku selalu dipanggilnya,“ Deden yang berprofesi dokter membuka pembicaraan.

“Huh, apalagi aku. Waktu kita semua pergi teraweh, diteriaki. Katanya ‘ngapain nungging-nungging? Tuhan kok mau ditunggingin?’ Sudah kubilang agar Papi ‘nyebut’, malah aku ditertawakan. Kujawab ‘Papi ini Islam atau apa sih?’“ Idham menambahkan.
“Apa aja, suka-suka gua! Sudah bisa ditebak! Biasaaa!” empat anak lainnya lelaki dan perempuan menjawab serempak, lalu tertawa cekikikan. “Buat apa disholatkan? Nggak jelas!” seru suara-suara susul menyusul.
“Tuh, orang tua yang dulu selalu merasa akan panjang umur. Kalau diingatkan tentang umur, disuruh taubat, selalu bilang ‘gua nggak bakalan mati’. Eh mati juga!” Godet menyeringai, yang lain terkekeh.

Begitulah. Pemakaman berlangsung diam-diam, anak-anak Tajudin hanya menonton orang-orang yang menurunkan jenazah. Tetangga yang mengantar jenazah hanya beberapa orang. Hanya dua mobil biasa terparkir, mobil ketiga adalah mobil jenazah sebuah yayasan kematian.

Agus menatap gundukan tanah di depannya. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu. Sesekali ia menengok ke sana ke mari mencari-cari seseorang. Entah siapa yang dicarinya. Tak lama kemudian, sesosok perempuan muncul dari kejauhan. Menggendong bocah lelaki, berjalan terseok-seok mengenakan sepatu bertumit tinggi. Pakaiannya berwarna mencolok, berkacamata hitam, berkerudung hitam.

“Papi, nanti si Kevin sekolahnya gimana atuh?” Ruminem berjongkok di sisi makam. Tanpa tetes air mata, tanpa getar kesedihan. Perhiasan bergemerincing di pergelangannya. Sebuah tas kulit hitam diletakkannya di sisi lututnya. Koper kecil di belakang punggungnya. Entah apa yang akan dilakukannya.
“Kenapa kamu baru datang Minem?” Agus bertanya dengan suara keras. Ia menahan geram menatap Inem.
“Anjing! Jangan pura-pura lu! Pensiun Papi buat apa? Rekening lu di bank ratusan juta. Masih kurang, hah?” Jamilah tak sabar membentak Ruminem.

Titin maju mendekat. Direnggutnya kerudung hitam Ruminem. Rambutnya yang dicat merah terlihat mengkilap diterpa sinar matahari. Ruminem mengelak. Titin maju lagi, direnggutnya kacamata hitamnya. Betul tanpa air mata kesedihan! Ipat maju merenggut tas tangannya. Tarik menarik terjadi.
“Mau ke mana lu? Papi sudah meninggal. Lu kagak pernah urus Papi. Mau hartanya saja. Dasar rakus! Pergi lu!” Jamilah, Titin, Ipat dan Godet menyerangnya. Ruminem berdiri tegak mempertahankan tas tangan dan kopernya. Anak dalam gendongan terguncang-guncang.

Agus menahan nafas. Ia membiarkan semua terjadi. Tetangga yang masih berdiri di situ menonton adegan tersebut dengan mulut menganga. Tanah pemakaman masih basah dan merah di siang yang membakar itu.[]

Januari 2013

Ilustrasi: Lukisan folklor Dong Ho 

Senin, 29 Agustus 2016

Aku Bukan Bangsawan

Cerpen Weni Suryandari

Sejak kecil aku dididik untuk bersikap halus, santun, sopan sesopan-sopannya. Tak lain karena aku perempuan. Lebih ekstrim lagi karena aku gadis keturunan bangsawan dari silsilah raja-raja Sumenep. Entah keturunan ke berapa. Aku pun tak terlalu perduli, sebab bagiku, keturunan bangsawan atau bukan adalah sama saja. Tak ada pengaruh yang bisa membuatku jauh lebih istimewa dibandingkan dengan yang bukan keturunan bangsawan. Ah, siapa pula yang akan membuat diri kita sukses dan menjadi manusia yang mandiri dan berdaya guna jika bukan karena kemampuan kita sendiri? Aku tak pernah percaya bahwa silsilah dapat mengubah nasib baik seseorang di masyarakat.

 Ikuti selanjutnya:


Mengapa kemudian ibuku menjadi sedemikian ketat untuk urusan tata krama dan budi pekerti luhur? Tata krama selalu diagung-agungkan sebagai sebuah adab tertinggi dalam budaya prilaku kaum priyayi dalam adat Jawa atau adat bangsawan di manapun. Di seluruh pulau Madura, menurut Ibu, Sumenep adalah wilayah paling halus tata krama dan budi bahasanya di antara semua wilayah bagian di pulau garam ini.

Ibu tak pernah mengizinkanku untuk menopangkan kaki jika berbicara di depan keluarga, terutama di depan orang yang berusia lebih tua. Tak pernah membiarkanku tertawa lepas, cekikikan,   atau terbahak-bahak dan membuka mulut selebar-lebarnya. Pernah pahaku dicubit sedemikian keras ketika kedapatan ikut bicara dan menyilang kaki saat bertamu atau menerima tamu kerabat jauh dan dianggap terhormat, karena kekayaannya atau usianya, atau hubungan struktur kekerabatan yang lebih tinggi daripada Ibuku.

Ya. Bapak dan Ibuku keturunan bangsawan. Seluruh keluarga besarnya yang tersebar di Jakarta begitu bangga dengan keberadaan itu. Semua selalu membanggakan namanya yang berembel-embel R atau RA, RP atau RM. Hanya keluargaku yang tidak terlalu memusingkan soal gelar, sebab ayahku sangat moderat. Di zaman tahun 60-an, ayahku ikut pergerakan mahasiswa meskipun memiliki hubungan asmara dengan ibuku. Jadi, sedikit banyak, pergaulan mahasiswa yang digeluti ayahku ikut mengubah paradigma berpikirnya yang kolot dan feodal menjadi modern dan moderat.

Semula aku merasa biasa-biasa saja menghadapinya. Menjalani hidup seperti tuntunan Ibu membuat aku lebih mawas diri, lebih menjaga perilaku, terutama dalam pergaulan dengan sesama teman kuliah. Cara bergaul dan bertutur kata yang melekat dalam kepribadianku terbaca oleh teman- teman sepergaulan. Apalagi laki-laki yang jatuh hati padaku. Baik yang seangkatan maupun kakak kelasku. Kerapkali mereka bilang: orang Madura halus sekali, seperti keturunan kraton!

Persoalan lalu menjadi runyam ketika aku mulai berpacaran dengan Rusdi, pria asal Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta. Sebagai seorang penyuka sastra, aku mengenal Rusdi melalui tiga buah novelnya yang terbilang laris manis di pasaran. Banyak sastrawan hebat yang menjadi temannya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya, sedangkan aku penggemar berat karyanya? Kami sering bertemu jika ada acara peluncuran buku atau temu sastra dan diskusi di TIM atau di tempat-tempat lainnya. Rusdi selalu melirik jika kedapatan aku sedang mencatat atau mengajukan pertanyaan pada moderator. Bahkan pernah pula aku didaulat membacakan puisi Rendra untuk mengisi kekosongan acara, sembari menunggu kehadiran pembicara selanjutnya. Gayaku yang tomboy membuat Rusdi tertarik untuk mendekatiku. Bahkan, suatu ketika, mengantarkanku pulang ke rumah seusai acara. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Kenangan yang membuat jantungku berlompatan ketika Rusdi dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada novelnya yang kumiliki dengan tulisan : untuk Ariani, I love u!

Namun, gaya urakan Rusdi itulah sumber petakanya. Suaranya keras dan sikapnya yang sangat terbuka, membuat aku jengah. Setiap ia bertandang ke rumah dan berbincang-bincang bersama ibuku, alangkah tidak sopan gayanya! Sesukanya saja ia silangkan kaki, mengangkat cangkir dan menyeruput minuman dengan cara yang kasar, bahkan membantah argumentasi Ibu jika sedang bersilang pendapat tentang hal-hal biasa, semisal harga BBM, kebijakan pemerintah, emansipasi perempuan, gosip selebritis atau apa saja yang sedang ramai jadi perbincangan orang banyak. Ah, tentu dapat kau bayangkan! Pasti alis Ibuku langsung mengernyit, lalu segera masuk kamar. Alih-alih keluar lagi, seperti biasa Ibu segera memanggilku, kemudian berbisik menyuruhku bergegas mengusir Rusdi.

Namun Rusdi bukanlah seorang Batak tulen jika ia mudah menyerah. Rusdi pantang putus asa. Ia bersiteguh pada pendiriannya untuk tetap menunggu restu dari Bapak dan Ibuku. Jadwal bermalam Minggu atau kunjungan rutin masih tetap dilakukannya. Ia pun tetap rajin mengajakku ke tempat-tempat pertemuan sastrawan, atau menonton pertunjukan teater di TIM. Seusai menonton, kami akan mendiskusikannya. Penguasaan Rusdi akan dunia seni teater dan sastra membuatku bertekuk lutut! Aku makin jatuh cinta padanya. Lama kelamaaan aku mulai terpengaruh oleh sikapnya. “Berani karena benar”, begitu selalu yang ditanamkan Rusdi di kepalaku. Aku menjadi lebih mudah berbicara, atau memberi argumentasi jika tak sepakat, bercakap-cakap dengan bebas dengan orang yang lebih tua. Bahkan tertawa terbahak-bahak pun mulai berani kulakukan.

“Ibu, dunia tak akan runtuh hanya gara-gara aku tertawa keras Ibu!” begitu bantahku. Atau, “Mengapa kita harus diam jika kita tak setuju? Alangkah menderitanya menjadi perempuan? Apa aku tak boleh berbicara atau mengemukakan pendapatku, Bu?” Begitu sergahku. Ibu akan menunjukkan sikap tak suka, geleng-geleng kepala atau menampar mulutku yang berani.
“Gara-gara kamu bergaul dengan Rusdi dan semacamnya, kamu jadi seperti tidak terpelajar, Ariani!”
“Bukan karena bergaul dengan Rusdi, Ibu! Ini zaman modern, mengapa kita masih terikat dengan adat kuno itu? Ah, Ibu!” bantahku sambil membanting pintu kamarku dan menyetel musik keras-keras. Kemudian membuka-buka buku, atau membaca novel yang belum selesai kubaca.

**************

Malam itu Rusdi mengajakku menonton pentas pertunjukan monolog yang dimainkan oleh Butet Kertaredjasa. Sebagai penggemar berat Butet, tentu aku tak menolak ajakan Rusdi. Apalagi harga tiket masuk terbilang cukup mahal. Aku meminta izin pada Ibu, meski aku yakin Ibu tak akan menyambut laporanku dengan gembira.

“Bu, nanti aku akan nonton pertunjukan monolog bersama Rusdi. Pulang malam, Bu!” kataku meminta izin dengan jujur. Aku tak pernah mendustai Ibu.
“Tidak! Sabtu yang lalu kamu pulang tengah malam dengan Rusdi. Dua hari yang lalu, keponakan Ibu melihatmu sedang bergandengan tangan dengan Rusdi di sebuah Café. Dan kamu tahu apa akibatnya? Keluarga ini jadi pembicaraan di keluarga besar kita! Ibu malu!” Ibu tak bisa dibantah.

    Aku tetap bersikeras agar bisa pergi menonton pertunjukan Butet malam nanti. Acara ini sudah kutunggu sejak berhari-hari yang lalu. Sudah kunanti-nanti! Perdebatan pun berlanjut seperti biasanya. Ah, mengapa aku yang selalu tak bersepakat dengan Ibu? Apa karena aku anak sulung dan paling dewasa di antara tiga bersaudara? Adikku perempuan masih remaja, kelas dua SMP. Mungkin belum saatnya memikirkan hal-hal seperti yang kupikirkan saat ini!

    Satu jam kemudian kulihat Ibu sedang menyiangi sayuran yang akan dihidangkan untuk makan malam. Dapur begitu sepi. Ibu memang jarang berbicara dengan pembantu. Pembantu setia kami—sudah dua belas tahun mengabdi di keluarga kami, sejak adik bungsuku berumur 3 tahun—jarang mengobrol dengan Ibu. Sedangkan aku senang berkelakar. Hubunganku dengan Umaiyya terbilang akrab. Ia juga berasal dari Sumenep. Memanggil Ibuku dengan julukan Din Aju (Den Ayu, bahasa Jawa).

    Kuintip lagi Ibuku di dapur. Pembantuku sedang mencuci daging. Ibu masih menyiangi sayuran. Saling diam, saling bisu. Keduanya tak bercakap sama sekali. Aku hanya berdiri di balik pintu. Ingin masuk dan merajuknya, tak berani. Aku melihat Ibuku berwajah muram. Jangan-jangan Ibu sedang gusar memikirkan perilakuku. Sering Ibu berbicara: sebagai anak sulung, kau harus memberi contoh pada adik-adikmu. Padahal sebagai anak sulung aku merasa beban ini begitu berat. Aku menyukai kebebasan selama itu bertanggung jawab.

    “Bu, boleh ya, Bu. Aku ingin sekali menonton pertunjukan itu! Tiketnya sudah dibelikan oleh Rusdi!” rajukku.
    “Rusdi! Lagi-lagi Rusdi! Mon nyare lalake’ se teppa’!” ujarnya tanpa menoleh.
    “Rusdi baik, Bu. Ia tak pernah kurang ajar! Kenapa Ibu membenci Rusdi? Apa karena ia orang Batak, dan bukan keturunan priyayi?” bantahku mulai emosi.
    “Bukan hanya itu! Ia kurang sopan! Ibu tak suka!” Ibu membanting pisaunya di atas baskom kaleng tempat sayuran. Suaranya mengagetkanku. Pembantuku juga terkejut, menggidikkan bahu dengan reflek.
    “Lanjutkan Umi! Sayur bening buat Bapak!” Ibu berseru sambil berjalan melewatiku.
Aku terhenyak. Sungguh tak berani membantah Ibu. Tapi, oh, bayangan Butet Kertaredjasa sedang bermonolog begitu menggoda imanku! Pelan-pelan aku berdiri dari jongkok di atas dingklik plastik, menuju ke ruang depan.
    Di kamar depan, kamar Bapak dan Ibu, kulihat Ibu sedang berbaring membaca majalah. Ah, di satu sisi Ibu gusar sebab aku tak juga menemukan jodohku meski usiaku beberapa bulan lagi hampir menginjak kepala tiga. Di sisi lain, Ibu begitu ketat memilihkan jodoh yang cocok buatku. Jujur saja, meski banyak lelaki yang mendekatiku, aku tak terlalu suka untuk cepat-cepat memutuskan pilihan. Ada-ada saja kurangnya!
    Dengan tubuhku yang tinggi semampai, wajah cukup cantik, rambut ikal panjang dan otak cemerlang kata orang, tak mungkin aku sulit mendapatkan jodoh, demikian kata Ibu berulang-kali. Padahal, aku tahu, Ibu juga suka bingung melihat betapa sulitnya aku bertemu jodoh.
    “Bu, aku akan pergi. Aku harus pergi, Bu! Teman-teman teater akan datang semua menonton pertunjukan itu! Tak mungkin kubatalkan! Rusdi sudah membelikan tiketnya, sepulang kantor akan menjemputku.”
    “Rusdi lagi, Rusdi lagi! Ibu tak mau mendengarnya! Apa kata orang dan keluarga besar kita jika anakku menikah dengan anak petani orang Batak? Kasar! Bukan keturunan priyayi!”
Telingaku seperti tersengat lebah! Sakit! Aku mencintai Rusdi dan diam-diam kami sudah mempersiapkan cincin!
    “Ibu! Zaman sekarang masih saja berpikiran kolot! Apa hebatnya keluarga bangsawan, Bu? Apa makanannya bukan nasi? Atau buang gasnya lebih wangi? Ibu…, aku tak tahan lagi dengan semua doktrinmu tentang kebanggaan akan gelar!” sungutku sambil mencoba menahan tangis.

Wajah Rusdi membayang di mataku. Rusdi, lelaki Batak yang supel dan ramah. Tubuhnya atletis. Dadanya bidang. Rambutnya ikal. Dan wajahnya mirip Richard Gere, meski berkulit agak gelap. Pekerjaannya juga lumayan. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta. Ia sukses menempuh cita-citanya sebagai anak dari keluarga miskin petani aren di Medan sana!

    Aku segera keluar dari kamar Ibu. Yang sedianya aku ingin memijiti kakinya, kali ini enggan! Ibu dengan penyakit jantungnya sering minta dipijat di bagian kaki, dan aku paling senang memijitinya karena Ibu akan diam saja sambil setengah mengantuk. Ibu akan tekun mendengarkan celotehku tentang teman-teman kampusku atau rekan-rekan kerjaku bahkan tentang laki-laki yang mendekatiku. Hingga ia tertidur. Ibuku sahabatku!

    Jam dinding sudah berdentang 5 kali. Artinya aku harus segera berangkat. Rusdi pasti sebentar lagi datang! Ia tetap bersikap jantan meskipun tahu Ibuku kurang menyukainya. Segera aku siapkan kaos dan celana jins yang akan kupakai. Rambutku yang baru saja di creambath kuikat separuh, separuhnya lagi kugerai. Kata Rusdi aku cantik jika diikat separuh seperti itu dan tanpa poni!

Tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku. Ia menatapku lekat-lekat seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Kuletakkan sisir.
“Bu, ada apa? Aku mau siap-siap, sebentar lagi Rusdi datang.”
“Jadi… kamu nekat membantah nasihat Ibu?”
“Bu…. aku mencintai Rusdi. Kami sedang mempersiapkan pernikahan!”
“Astaghfirullah! Kamu akan menikahinya? Tidak! Ibu lebih baik mati daripada bermenantu orang Batak!”

Duh, dadaku rasanya mau remuk! Ibu segera berlalu, masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Capek membantah, aku diam saja tak mengacuhkan. Kata-kata terakhirnya tadi mengganggu pikiranku. Diam-diam aku menelan ludah, menahan tetes airmata yang tertahan di pelupuk mataku.

Suara Rusdi mengucap salam mengagetkanku. Kutatap saputan bedak di wajahku terakhir kali. Aku keluar menemui Rusdi. Segera  kupamit pada Ibu.

“Bu, Rusdi sudah datang. Aku akan pergi Bu! Rusdi mau pamit!” Ibu tak menyahut. Tubuhnya tergolek menghadap ke tembok. Akupun diam saja sambil menutup kembali pintu kamar.
“Sudah, tak usah pamit. Ibu kurang enak badan.” Bisikku pada Rusdi. Aku hanya berpamitan pada adikku yang sedang membuka komputer. Pikiranku mulai tak karuan. Separah itukah kebenciannya pada Rusdi?

Pertunjukan dimulai tepat pukul tujuh. Penonton membludak, memadati gedung Graha Bhakti Budaya. Semua kursi terisi. Tata panggung begitu apik, artistik. Lampu-lampu penonton mulai dipadamkan satu persatu. Hanya tersisa lampu di bagian panggung. Terdengar nyanyian dalam iringan music etnis kontemporer sebagai latar belakang setting. Hatiku makin bergemuruh tak sabar menantikan kehadiran Butet sang aktor monolog.

Setengah jam kemudian, suara ponsel terdengar. Adikku mengirim pesan singkat. Mbak, pulang. Ibu kumat jantungnya. Begitu bunyi pesan singkatnya. Tanpa sadar airmataku menggenang. Aku berdiri panik. Rusdi ikut berdiri.

“Ada apa, Ar?”
“Ibuku, Ibuku…..” ujarku terbata-bata. Aku tak mampu menjelaskan. Rusdi ikut berdiri, menyusulku yang berjalan cepat meninggalkan arena pertunjukan. “Jantung Ibuku kumat!” sahutku tergesa. Rusdi segera membuka pintu mobilnya. Kami meluncur membelah keramaian kota Jakarta di malam Minggu itu. Kami melewati jalan tol. Rusdi mengemudi secepat kilat. Terbayang di mataku saat pertama kali Ibu kena serangan.

Oh, aku tak mau mengalami kejadian mengkhawatirkan itu lagi! Setibanya di rumah, segera aku menghambur ke kamar Ibu.

“Ibuuuu! Ada apa? Ma’afkan aku Ibu!”
Rasa bersalahku melebihi segalanya.
30 Desember 2009

(dimuat di majalah Kartini, Juli 2010)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pungli

Cerpen Weni Suryandari

KANTOR kecamatan tampak suram. Gedung bercat abu-abu tersebut berdebu. Maklum, kantor tersebut dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar. Sebagiannya adalah truk-truk pengangkut semen dari sebuah pabrik semen di wilayah itu. Belum lagi pabrik-pabrik lain yang berdiri di sekitarnya. Pasar yang riuh rendah, jalanan yang penuh lubang. Menjadi kubangan lumpur jika musim penghujan, menjadi sumber debu jika musim kemarau.

Beberapa pegawai kecamatan berseragam sipil tampak duduk-duduk di beberapa meja. Sebagian duduk di belakang meja bagian dalam, merokok atau mengobrol. Aroma kopi dan bau asap rokok menebar. Seorang yang duduk di pojok sedang makan nasi bungkus. Mungkin sedang sarapan. Seperti ada sesuatu yang ditunggu-tunggu.

“Silakan, Bu. Silakan, Pak. Di aula atas ruang pertemuannya,” seru seseorang berkumis dengan logat Sunda yang khas. Ia baru saja turun dari lantai atas, menyambut kedatangan para undangan. Guru-guru dari berbagai sekolah sewilayah kecamatan.

Undangan yang berdatangan secara rombongan segera melewati tangga menuju sebuah ruang yang disebut aula. Cukup besar untuk menampung seratus lima puluh orang. Kursi-kursi berjajar. Separuhnya dipenuhi undangan guru-guru yang tersebar dari berbagai sekolah. Jadwal undangan satu setengah jam terlambat, namun acara belum juga dimulai. Bisa dimaklumi sebab saat itu adalah jadwal hari mengajar. Bukan hari libur. Tentu berat meninggalkan tugas mengajar. Murid-murid akan terlantar.

“Bapak-bapak dan Ibu-Ibu guru yang kami hormati. Kita tunggu lima belas menit lagi ya. Sampai terpenuhi tiga perempat kursi, kita mulai.”

Bapak berkumis yang menemui rombongan guru-guru di tangga membuat pengumuman melalui pengeras suara. Di baju bagian dada kirinya terpasang emblem bertuliskan Asep Saepudin.

Para guru pun menunggu dengan sabar. Pertemuan seperti ini selalu terjadi jika Dinas Pendidikan Kecamatan memanggil guru-guru peserta sertifikasi. Entah untuk urusan penyuluhan, atau pengumpulan berkas. Selalu jam karet. Akhirnya seperti ajang silaturahmi antar guru guru sekolah, baik swasta maupun negeri. Bocoran tentang gaji, tunjangan di masing-masing sekolah atau yayasan kerap merebak. Semua bervariasi, jumlahnya tidak sama.

Penampilan para guru, bahasa tubuh, cara berbicara, semuanya beragam. Beberapa guru dari sekolah negeri berseragam coklat sipil tampak berpenampilan sederhana. Terlihat dari bahasa tubuh dan cara berbicara. Di antaranya bahkan tampak berusia lebih dari separuh abad. Sebagian hanya berpendidikan SPG, diploma, atau mengikuti pelatihan-pelatihan profesi dari dinas terkait. Masa kerja yang telah puluhan tahun dijalani tentu membuahkan hasil. Sementara guru-guru dari sekolah swasta berpenampilan lebih baik, cara berbicara dan bahasa tubuhnya pun demikian. Semua guru-guru sekolah swasta adalah sarjana, baik dari universitas negeri ternama, ataupun swasta. Masa kerja mereka pun lumayan lama, banyak yang lebih dari sepuluh tahun.

“Assalamu’alaikum. Selamat pagi, salam sejahtera! Bapak dan Ibu pencerdas kehidupan bangsa! Guru-guru super, guru-guru berbakti pada bangsa dan negara,” Pak Asep membuka acara. Rupanya hampir semua kursi terisi. Serentak suasana menjadi hening. Acara dimulai.

Beberapa petugas, mungkin kepala bagian atau kepala seksi yang berkepentingan ikut duduk di deretan pembicara atau petugas. Tumpukan map yang berisi sertifikat profesi guru telah tersedia. Untuk itulah semua guru diundang. Meski sebenarnya bisa saja diwakilkan oleh satu orang saja dari satu sekolah untuk mengambilnya. Lantaran dari satu sekolah ada banyak guru, mungkin belasan yang mendapatkan sertifikat guru dari Diknas.

“Bapak-bapak dan Ibu Guru, Syukur Alhamdulillah, telah selesailah semua persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Setelah melalui rangkaian proses dari mulai pemberkasan, uji kompetensi, hingga pelatihan yang diselenggarakan secara bertahap. Kini saatnya Bapak Ibu sekalian mendapatkan sertifikat guru professional dari Menteri Pendidikan. Senang, kan?”

“Senaaaaaang!”
“Tepuk tangan dulu, untuk kita semua!”
Tepuk tangan membahana.
“Nah, begitu dong! Jangan cemberut lagi, jangan mengeluh lagi. Jangan suka protes, jangan suka bikin gossip di luaran. Padahal semua kan demi kepentingan Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru…?“ kekehnya. Beberapa guru menggerutu di sana sini. Sesekali tawa kecil terdengar.
“Kami percaya, Bapak dan Ibu guru yang hadir di sini adalah orang-orang cerdas. Cerdas!”
“Kok kita jadi seperti orang bodoh? Sialan tuh Bapak Asep?!” seorang guru perempuan menggerutu. Diaminkan oleh guru-guru di sekitarnya.
“Ayo jawab, cerdas bukan?”
“Cerdaaaaaasss!” Deretan kursi depan agaknya tak ingin terlihat tanpa reaksi. Bagaimanapun wajah-wajah mereka pasti terlihat jelas dari meja pembicara.
“Sialan, mau apa sih? Bicaranya berputar-putar,” bisik seorang bapak berbaju batik dan berkopiah yang duduk di deretan tengah paling kiri.
“Kita tunggu saja. Pungutan apalagi yang diminta!” seru seorang lainnya berbisik-bisik
“Cerdas, kan? Sudah bisa mengetahui informasi dan mendatangi Bank untuk meminta nomor rekening? Padahal kami pun belum tahu informasi itu dari dinas pusat!”

Semua terdiam.

“Nah, begitu dong! Bapak dan Ibu cerdas, karena sudah bisa membuka internet, sudah bisa mencari-cari informasi, sudah tahu lebih dulu informasi sertifikasi yang bahkan kami pun di kecamatan belum tahu apa-apa! Bapak dan Ibu yang cerdas-cerdas inilah yang sering memberitahukan info dari dinas pusat. Hebat kan? Cerdas, itu namanya!”

Beberapa guru bersungut-sungut. Beberapa lainnya ada yang tergelak tertahan. Ada juga yang diam menegang, ada juga yang hanya memperhatikan wajah-wajah setiap guru yang hadir.

“Jadi begini, Bapak, Ibu. Saya yakin, Bapak dan Ibu semua mengerti maksud saya. Sertifikat ini tidak turun sendiri dari langit Bu, Pak! Kami yang mengusulkan nama-namanya, kami yang mengurusnya. Paham?“
“Pasti minta duit lagi! Gila tuh Bapak!” gerutu seorang guru perempuan di pojok kanan. Orang-orang sekitarnya mengangguk-angguk setuju.
“Jadi… oleh sebab itu, saling pengertian sajalah, nanti biar dikoordinasi oleh seorang perwakilan, berapa ‘sukarela’-nya. Kan Bapak-Ibu mau dapat uang banyak nih? Nah, ya saling tahu saja. Sebab kami yang mengurusnya, kan?”
Sekonyong-konyong seorang petugas berseragam sipil juga muncul dan melangkah cepat ke depan podium, membisik-bisikkan sesuatu pada Pak Asep. Lalu kembali secepatnya menuju pengeras suara. Mikrofon segera dimatikan.
“Aduh! Hehehe saya lupa! Nanti kalau omongan saya direkam wartawan, kalau ada wartawan yang hadir, nama kecamatan kita jadi jelek!”
Undangan yang hadir tak tahan tergelak juga. Gelak tawa mereka bercampur seringai ejekan membahana di ruangan itu. Wajah Pak Asep merah padam. Ia menahan malu.
“Bodoh itu orang! Bicara begitu kok terang-terangan. Kita kan ‘cerdas’? Hahaha!” seorang guru yang duduk di sudut dekat jendela terpingkal-pingkal. Guru-guru di sekitarnya ikut tertawa.
Mimbar diambil alih oleh seseorang lainnya. Seorang yang agak tua, berpostur setengah gemuk, berkepala botak. Ia segera berbicara lantang tanpa menggunakan mikrofon.
“Nah, Ibu, Bapak. Dari segi kurikulum, kita akan menjalani kurikulum 2013. Jadi suka atau tidak suka, tidak bisa protes. Kurikulum 2013 harus segera dilaksanakan implementasinya mulai tahun ajaran baru nanti. Nah, jangan kuatir. Nanti saya sebagai Kabid Kurikulum akan memberi pengarahan-pengarahan terkait dengan pelaksanaannya di sekolah.“

Guru-guru terdiam. Hening suasana karena mulai membicarakan kurikulum baru. Sedangkan pelatihan profesi guru baru-baru ini masih menggunakan kurikulum lama.

“Nah, undangan pada hari ini adalah untuk pengambilan sertifikat dan pemberitahuan tentang pelaksanaan kurikulum baru nanti. Ke depannya, kami harapkan terjalin saling pengertian. Jadi tidak ada lagi isu yang beredar di pusat, orang-orang di kantor kecamatan ini paling sering melakukan pungutan-pungutan, atau pemerasan terhadap guru-guru yang akan memperoleh sertifikasi. Tidak ada bukti kan? Kami tidak memungut apapun. Hanya TST sajalah.“

Gemuruh suara hadirin terdengar lagi. Tawa-tawa kecil, umpatan, gerutuan menggema perlahan.

“Sudah, sudah! Sekarang langsung saja ya! Silakan dipilih satu orang koordinator perwakilan setiap unit pendidikan, SD, SMP, SMK dan SMA. Nanti silakan diinformasikan melalui koordinatornya saja. Biar cepat ya Pak, Bu! Sebentar lagi kita mau Jum’atan!”
Para guru kebingungan, menoleh sana-sini. Sebagian masih belum mengerti “informasi” apa. Bukankah telah ada tumpukan sertifikat yang semestinya sejak tadi siap untuk dibagikan? Tak berapa lama kemudian, beberapa nama muncul, sesuai dengan panggilan unit pendidikan. Nama dan nomor telepon mereka dicatat.
“Bukankah sertifikat sudah siap? Info apalagi sih?” seru beberapa orang begitu sinis.
“Biasa, kalau bukan soal uang patungan, apalagi?” jawab yang lain.
“Maksudnya? Kita suruh mengumpulkan uang lagi?” tanya seorang perempuan berbaju stelan blazer hitam. Wajahnya lugu.
“Iyalah Bu! Kan biasa! Dari sejak pemberkasan, pengambilan formulir A0, A1, sampai keluarnya kartu peserta ujian selalu minta uang. Belum lagi waktu supervisi nanti. Teman-teman di sekolah saya yang sudah lebih dulu mendapat tunjangan kan selalu dimintai uang, biar laporannya bagus.”
“Astaghfirullah! Gaji mereka buat apa? Bukankah mereka digaji untuk mengerjakan itu?”
“Ya biasa Bu! Begitulah kalau berurusan dengan birokrasi.”
“Sama dengan berurusan dengan aparat! Hahaha!” seorang Bapak berkepala plontos dan kurus menyahut.
“Kelakuan aparat biar bisa beli Alphard! Hahaha,” disambut oleh tawa lainnya.
Beberapa guru berkumpul sesuai unit pendidikan. Rembugan pun berlangsung. Ada yang memakan waktu lama, tentu perundingan begitu alot. Ada yang sangat cepat meski anggotanya sedikit. Masing masing menerapkan jumlah yang disepakati bersama. Uang-uang kertas biru dan merah berseliweran dari tangan ke tangan. Berkumpul di tangan satu orang koordinator. Masing-masing koordinator sibuk mencari amplop putih kosong.
Menjelang acara berakhir, suara-suara dari mikrofon terdengar lagi.

“Ibu-Ibu! Bapak-bapak! Acara belum kita tutup. Duduk dulu! Mari kita tutup dengan hamdalah, semoga keikhlasan saudara sekalian akan memperlancar rezeki Bapak-Ibu semua!“

Tak ada yang duduk kembali mendengarkan. Semua hadirin sibuk hilir-mudik, sibuk mencari teman sejawat, kolega yang akan pulang bersama. Serentak rombongan demi rombongan menuruni tangga. Di ruang bawah tangga, beberapa orang pegawai dinas duduk-duduk di meja, berjajar tersenyum penuh kemenangan.

“Amit-amit! Makan tuh duit haram! Pungli di negeri ini belum hilang! Mental aparat bobrok semua. Dasar rakus, sudah menjadi pekerjaannya mengurusi guru, masih juga minta-minta duit guru! Rakus! Amit-amit! Jangan sampai anak-anakku bermental begitu! Puihhh!”

Suara-suara gerutuan terdengar pelan, bisik-bisik, lama-lama memudar. Kantor hening. Pegawai-pegawai berseragam sipil dengan tatapan dingin duduk-duduk, tersenyum, merokok, melamun, minum kopi. Senyum kemenangan.[]

Januari 2013

Cerpen diatas terkumpulan dalam buku kumpulan cerpen "Kabin Pateh" 

Juleha


Cerpen: Weni Suryandari

SUDAH sepekan ini Juleha, gadis dusun yang diangkat anak oleh Rosyidah mendekam di balik jeruji besi. Tak terlihat kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya, sorot matanya, bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas. 

Ingatannya kerap melayang pada peristiwa setengah tahun lalu, tepatnya di bulan Juni. Suatu sore ketika ia sedang berjalan menyusuri pematang sawah menuju rumah Ijah, sahabatnya mengaji sejak kecil, debar asmara mulai bermain di dadanya.

Dari seberang sana, ia melihat seorang lelaki berparas tampan, kulitnya putih bersih, dengan dagu dan pipi kehijauan sisa cukuran. Lelaki itu melambai padanya, dan memberi senyum sambil menganggukkan kepala. Dalam jarak 10 meter, ia dapat melihat jelas wajah lelaki itu. Sesaat jantung Juleha berloncatan. Ia hampir tergelincir di pematang yang licin itu. Untung ia sanggup menguasai diri dan berjalan tegap tanpa menundukkan kepala. Rambutnya yang dikepang dua dengan poni yang meriapi dahinya tak menutupi kecantikan wajahnya. Lesung pipit dan mata bulat yang indah menawan hati setiap kumbang desa.

Begitulah, ia semakin sering melewati pematang sawah yang menuju rumah Ijah hanya untuk melihat pria tampan itu lagi. Belakangan baru ia ketahui bahwa lelaki itu bernama Sodikin. Pegawai Pemkab yang sering mengunjungi kantor KUD Kecamatan yang terletak di seberang jalan raya. Kadang ia melihat Kang Ikin—begitu ia minta dipanggil—sedang mengobrol dengan seseorang bercaping di saung tengah sawah. Dari pakaian yang dikenakannya jelas Ikin lebih bersih dan terpelajar, sedang lelaki bercaping itu, mungkin petani penggarap sawah atau pemilik sawah.

Lama kelamaan pandangan mata tak cukup lagi buat keduanya, Kang Ikin mulai memberanikan diri mengantar Juleha ke rumah Ijah. Kadang mereka naik motor memutari jalan raya dan jalan setapak, kadang melewati pematang yang sama, dengan bertelanjang kaki. Semakin lama dikenalnya, Kang Ikin memiliki pesona tersendiri bagi Juleha yang tamatan Aliyah Negeri di dusun itu. Tak ada kumbang desa yang sanggup menawan hatinya. Kang Ikinlah yang sanggup memenuhi seluruh rongga kepalanya siang dan malam, bahkan dalam mimpi. Angan angan tentang masa depan segera dirajutnya.

“Juleha, aku mau ke rumahmu boleh?”
“Ah, Akang pake nanya segala, main saja ke rumah kenalan sama Emak saya”
“Betul boleh? Akang pingin kenalan sama orang tuamu, Juleha”
“Hayu, atuh Kang. Saya cuma punya Emak, Bapak teh sudah lama meninggal”
“Oh.. begitu. Kira-kira ada yang marah nggak nanti?” pertanyaan basi, menggoda.
“Siapa yang akan marah?” polos Juleha balik bertanya sambil mengernyitkan alis.

Sinar matahari makin menularkan cahaya emasnya pada gadis manis itu. Bulu-bulu tipis di atas bibirnya cukup menggemaskan Ikin. Makin kuat keinginannya untuk mempersunting Juleha. Setidaknya bisa menemaninya sebagai istri jika Sodikin harus berpindah-pindah tugas ke daerah lain kelak.

“Kirain, Juleha sudah punya pacar?”
“Ah!! Akang… siapa yang mau sama saya, Kang? Orang kampung….,” dikibas-kibaskannya tangannya, seolah meyakinkan Ikin bahwa ia memang belum punya pacar.
“Baiklah kalau begitu, Juleha. Besok malam Minggu Akang main ya…?”
“Baik Akang. Tapi habis isya ya? Saya ngaji dulu di musholla,” Juleha mengangguk malu dan girang.

Malam minggu masih 3 hari lagi. Juleha sudah sibuk memikirkan pakaian yang akan dikenakannya dan suguhan yang akan disiapkannya. Pasti ia akan meminta bantuan Mak Rosyidah membikinkan kue bugisnya yang terkenal enak di kampung itu.

Lima menit lagi azan isya berkumandang, lalu Juleha akan segera sholat berjama’ah dan segera pulang. Ah, jam dinding di sebelah kiri mimbar di langgar memaku matanya. Ia tak sabar. Marbot Yusuf sudah bersiap hendak mengumandangkan azan. Segera dipasangnya mukena, agar tak ketinggalan dan mesti menyusul seperti teman-temannya yang masih sibuk bercanda. Ia berniat segera pulang begitu doa selesai dipanjatkan.

Setibanya di rumah, dilihatnya motor Sodikin sudah mematung di depan rumah Juleha. “Pasti Emak sudah mempersilakannya masuk,” hatinya meletup-letup. Ia masuk ke halaman dengan membawa hati yang berdegup kencang.
 “Assalamu’alaikum. Kang Ikin? Sudah datang?” disambutnya wajah yang dirindunya dengan senyum sumringah.
“Maaakk….! Kuenya mana?“ serunya sambil meletakkan mukena di kursi tengah ruang dalam. Rosyidah keluar dari dapur.
“Ya, sabar! Emak lagi susun di piring.” Senyum menghiasi wajah mereka berdua.
“Cepat Mak! Minumnya mana?” serunya sambil membereskan poninya.
“Ini, sudah. Teh manis hangat, pake gula batu. Bawa sana!” Rosyidah menyodorkan baki. Juleha menyambut baki itu dan melangkah keluar dengan dada tegap. Ia berusaha mengatasi rasa gugupnya, merasa diapeli! Ini adalah saat pertama dalam hidupnya dikunjungi lelaki tampan pujaannya. Ia tersenyum dikulum.
“Silakan Kang, diminum. Ini kue bugis khas buatan Emak. Sudah terkenal di kampung sini.

Sering dipesan tetangga kalau ada kendurian!”
“Wah, enak Juleha. Ah, merepotkan saja,” Sodikin segera merapikan duduknya.
Malam merambat pelan diselingi percakapan ringan yang penuh kehati-hatian. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Mungkin 6-7 tahun. Sodikin cukup matang untuk menikah. Rasanya tak mungkin jika ia belum menikah. Setidaknya menurut Rosyidah yang menerawang jauh mengingat-ingat sosok Sodikin saat berkenalan tadi.
Juleha menunggu obrolan Sodikin selanjutnya. Ia bungah. Dunia seakan ada di hatinya.
“Juleha, Akang pulang dulu ya..,” Ikin memecah lamunan Juleha.
“Eh, Akang kok buru-buru?”
“Iya, nggak enak sama Emakmu. Sudah malam.”
“Saya panggil Emak dulu ya?” ia beranjak memanggil Rosyidah.

Sodikin menyambut sosok Rosyidah yang ayu, matang dan berbeda dengan wajah Juleha yang begitu remaja. Sejak berkenalan tadi, Sodikin digelayuti penasaran ingin melihat wajah Emak Juleha itu sekali lagi. Rosyidah keluar dengan wajah sumringah seakan menyambut calon menantunya. Sesungguhnya Rosyidah seakan melihat sosok kekasihnya saat ia masih menjadi buruh di sebuah pabrik sepatu. Itu dulu belasan tahun yang lalu.

Namun perawakan Ikin sedikit lebih mungil, dan tentunya lebih muda!
“Mau pulang, Ikin? Ya sudah, lain kali datang lagi ya, jangan bosan…”
Tangan perempuan yang hobi memasak terasa dingin dan halus di telapak tangan Sodikin. Tak disangkanya Rosyidah tampak lebih muda sebagai Ibu Juleha. Sodikin bingung mau memanggilnya Ibu, atau apa. Tapi karuan saja ia tetap memanggil Ibu. Sembari membungkukkan kepala, ia berpamitan.

Sejak saat itu, Juleha tak pernah merasa cukup sabar untuk pulang cepat seusai mengaji di musholla. Jika malam Minggu tiba, ia berharap sosok lelaki itu sedang duduk di kursi beranda rumah sembari menantinya. Bahkan melihat motor Sodikin terparkir manis di muka pagar pun membuat hati Juleha berbunga-bunga. Darahnya berdesir desir sambil berlari kecil.

Kadang-kadang jika Sodikin tidak datang malam Mingguan, ia akan melamun dan tak mau bicara. Kendati pun Rosyidah berusaha menenangkan hatinya. Ia tetap membisu.

“Mungkin Ikin sedang ada pekerjaan di luar kota, Leha!”
“Atau ia sedang sakit. “
Juleha tetap cemberut.
“Kenapa gak pernah kasih kabar ya Mak, kalau nggak bisa datang? Sering sekali begini.”
“Emak nggak tahu, Leha. ”

Sudah empat bulan mereka berpacaran, setidaknya menurut Juleha. Sesekali mereka berjalan-jalan ke kota, ke mall dan pulang selalu kemalaman. Rosyidah tak pernah marah. Ia hanya tersenyum dan menyambut Juleha dengan pelukan. Sodikin pun seakan merasa nyaman dengan perlakuan Rosyidah padanya. Baginya ada sesuatu yang lebih bermakna dari itu.
“Besok Emak jangan ke mana-mana ya?”
“Memang kenapa Emak nggak boleh pergi?”
“Emak sekarang sering pergi-pergi. Kadang-kadang ke salonlah, ke mall segala!”
“Kan nggak apa-apa sekali-sekali, Leha?”
“Iya tapi jangan besok. Nanti rumah kosong. Leha mau pergi agak lamaan!”
Rosyidah mulai disergap curiga.
“Mau ke mana sih, geulis?” ujar Rosyidah sambil membelai-belai kepala Juleha.
“Juleha mau ke rumah Kang Ikin di kota.” Rosyidah tersedak.
“Juleha tahu rumahnya?”
“Pernah ke sana dulu, satu kali.” Rosyidah menelan ludah. Dadanya berdebar-debar. Anak ini sudah tumbuh perawan. Bagaimana pun ia cukup khawatir dengan keberanian Juleha. Ke kontrakan Sodikin? Ah!

Juleha adalah anak kandung saudara sepupu Rosyidah, perempuan, yang meninggal dalam kecelakaan bis antar kota saat Juleha berusia 4 tahun. Ayah kandungnya pergi ke Arab dan tak pernah kembali sejak istrinya meninggal. Lalu Juleha diangkat anak oleh Rosyidah dan Mastur, suaminya. Pasangan itu memang belum dikaruniai anak setelah 10 tahun menikah. Mastur meninggal karena sakit paru-paru sejak Juleha menginjak kelas satu SMP.

***

SODIKIN menarik nafas panjang sambil membelai rambut wanita itu. Ia mendengar dengan hati hati setiap cerita yang diungkapkan wanita cantik itu. Rambut yang hitam bak mayang terurai benar benar memabukkan hasrat Sodikin untuk terus bercumbu dengannya. Matanya indah dengan bulu mata yang tebal mempesona. Tutur katanya tenang dan matang. Sodikin tak kuasa menolak pesonanya. Seperti menemukan oase, lelaki itu mencandunya.

Perempuan kekasihnya itu pun menyambutnya dengan penuh hasrat yang terpendam, seperti rumput kering yang menantikan hujan. Bagi perempuan itu, kehadiran Sodikin membuat hidupnya lebih bergairah. Hari-harinya menjadi lebih berwarna.

Kadang-kadang Sodikin membandingkan perempuan itu dengan Juleha, jelas ia lebih memilih yang lebih matang dan dewasa. Juleha masih sangat polos dan kekanak-kanakan. Mungkin ia juga belum begitu berpengalaman dalam memperlakukan laki-laki. Sedangkan perempuan matang di hadapannya ini begitu menghisap, seperti magnit. Usia tak lagi menjadi penghalang bagi mereka untuk berpacaran.

“Sayang, kapan kamu akan berterus terang pada Juleha tentang kita?” desak Sodikin.
“Entahlah. Apa aku tega untuk berterus terang padanya? Dia sangat mencintaimu.”
“Tapi cepat atau lambat Juleha harus tahu, dan aku harus menjauhinya.”
“Menjauhinya? Kamu pikir akan semudah itu bagi dia? Kamu tidak tahu bahwa dia sangat memujamu. Setiap hari yang dia ceritakan hanya Kang Ikin akan begini, Kang Ikin akan begitu, Kang Ikin…. Kang Ikin…. terus! Mana mungkin aku tega melukai hatinya?” suara wanita itu berbisik agak keras.
“Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak nyaman dengan keadaan ini,” Sodikin memperkuat pelukannya.
“Sabarlah, nanti akan aku cari waktu yang tepat,” perempuan itu balas memagutnya. Mendung bergelayut, cuaca kian dingin. Dedaunan berkerisik hingga sesekali guruh gemuruh terdengar di angkasa.
Mereka melanjutkan cumbu mereka hingga sore. Sebuah pemandangan yang biasa jika Sodikin mengundang wanita itu datang ke kontrakannya di kota. Mereka sama-sama mabuk asmara. Bisik-bisik tetangga tak dihiraukannya.
“Maaak!? Apa yang Emak lakukan di sini?”
“Julehaaa!!!” Sodikin dan kekasihnya melompat! Saling melepaskan pelukan dan berdiri sambil membenahi pakaian.
“Kang Ikiin?? Sudah sejak lama aku melihat Akang memperhatikan Emak lebih dari biasanya! Bahkan sekarang jarang menengok Leha! Aku benci kalian!”
Juleha naik pitam, ia meraung sejadi-jadinya. Ia lemparkan semua barang yang ada dan terjangkau tangannya. Buku-buku, botol parfum, minyak rambut, sisir cermin rias dan sebagainya. Ia mengamuk. Beberapa tetangga mulai berkerumun di teras rumah.

“Juleha! Dengarkan dulu Juleha! Dengarkan!!! Akang mau jelaskan sesuatu!!” Sodikin memegangi tangan Juleha. Rosyidah menangis tergugu di pojok ranjang. Ia tak sanggup berkata-kata. Ia tak berani beranjak.
“Apa? Apa yang akan Akang jelaskan? Akang telah mempermainkan hati saya!!!” Juleha memukul-mukul tubuh atletis Sodikin.
“Aku jatuh cinta pada Mak angkatmu, Rosyidah. Aku mencintainya dan akan menikahinya Juleha!!” Juleha makin histeris. Matanya memerah. Sodikin memegangi tangan Juleha. Ia bertelekan lutut di lantai. Ia menghiba. Suaranya gemetar.
“Apa? Apa Akang bilang? Penipu! Bajingan!“

Juleha berusaha sekuat tenaga meronta dari pegangan tangan Sodikin yang begitu kuat. Ia berlari menuju dapur, mengambil sesuatu, lalu berlari kembali menuju kamar, sementara Sodikin yang hendak mengejar Juleha ke dapur berpapasan di depan pintu kamar. Sebilah pisau tajam ia tancapkan di dada Sodikin. Rosyidah menjerit. Sodikin ambruk bersimbah darah. Juleha nanar menatap Kang Ikinnya yang sekarat.
Kerumunan tetangga berdatangan. Rosyidah pingsan.[]

Jati Asih, Mei 2009
Cerpen diatas terkumpul dalam buku kumpulan cerpen “Kabin Pateh” 
foto ilustrasi: lukisan Awins (blog-senirupa.blogspot.co.i)

Jumat, 29 April 2016

Kabin Pateh

Cerpen: Weni Suryandari

PERJALANAN begitu dingin menelusup sampai ke tulang-tulangku. Dedaunan luruh, angin bergemuruh menyesak dada. Aroma laut, suara camar, kecipak ombak kecil-kecil yang biasa menerabas kakiku jika bermain-main di pantai begitu kuat menghentak-hentak ingatanku. Semua masih kuingat dengan jelas, seakan aku kembali ke masa kecil dulu, atau masa remaja saat buah dadaku baru hendak ranum. Semua masih membayang. Pesisir Sumenep yang bersih.

Aku hanya lupa kapan tepatnya aku berkenalan secara dekat dengan Hadi, yang kini menjadi suamiku. Aku lupa kapan Ibhu dan Eppak mengiyakan lamarannya. Siang, sore atau malam hari. Sejauh yang masih kuingat, Daliyah dan keluarga besarnya tiba tiba saja datang hendak melamarku. Ibu dan Bapak bergeming mendengar rayuan maut Daliyah.

“Nanti Ibu saya tambahi modal untuk buka toko. Saya belikan tambak garam lagi untuk Bapak. Sampeyan jha’ kobeter,“ bujuknya.

“Sampeyan tak usah khawatir, kakaknya Ris akan saya biayai sekolahnya sampai selesai. Laki-laki harus sekolah terus, bukan?“ lanjutnya menyeringai.

“Nah, lihat! Rumah ini sudah hampir ambruk! Wah, harus segera diperbaiki. Saya yang akan menanggung biaya renovasinya. Tenang Bhu!” matanya meneliti langit-langit ruangan, melihat pintu dan kusen jendela.

Ibu dan Bapak tampak terkesiap malu. Bibirnya pucat. Wajahnya memerah.

“Dulu mushalla di depan rumah ini kan Bapak saya yang mendirikan? Ustadz Syamsu digaji oleh Bapak saya.“

“Iya, saya masih ingat itu semua, Daliyah.“ Bapak bersuara tanpa senyum. Ibu mengangguk.

“Nah, yang penting Ibu dan Bapak menerima pinangan saya untuk Ris. Ris juga sudah cukup umur kan? Ssst, Hadi kurang apa? Warisannya banyak, Bu!“ bisiknya mulai pelan.

“Sekarang saya punya rumah banyak, punya butik, hmm kalau tidak tahu, itu lho, toko pakaian mahal! Punya kolam renang dan tanah di mana-mana!“ congkak sekali mulutnya.

“Satu lagi. Ibu dan Bapak pasti ingin naik haji, ya kan? Saya sudah tiga kali pergi haji! Kita berangkat ke Mekkah lagi bersama-sama nanti!” Rayuan maut. Sialan!

Kata-kata Daliyah dari balik tirai kamarku terdengar berat dan tegas. Sosoknya kulihat sepintas dari balik tirai, berkulit kuning langsat, agak gemuk dan berpakaian dengan warna mencolok. Pergelangan tangannya dipenuhi perhiasan emas bergemerincing. Ingin rasanya kusumpal mulutnya saat itu. Kulihat bibirnya yang tipis dan nyinyir tersenyum penuh siasat. Tapi aku takut pada Ibhu dan Eppak yang tentu tergiur oleh janji janjinya.

Aku tahu Ibhu atau Eppak pasti akan mendatangiku. Aku dicekam gelisah.

“Ris, Daliyah itu cucu tertua dari keluarga besar mendiang RP. Rahmat Besuki, majikan Eppakmu di Kangean!” Eppak berbicara perlahan.

“Tapi saya tak suka pada Hadi, terlalu tua. Kenapa dia tidak mencari yang sesuai?”

“Tapi kau kan sudah pantas untuk menikah? “

“Dengan laki-laki yang kucintai Pak, yang sesuai!”

“Hadi kurang apa? Dia cucu orang terpandang! Keluarga priyayi!”

“Apa istimewanya? “

“Daliyah hidup enak karena baktinya pada orang tua. Kamu akan hidup nyaman jika menuruti nasihat Bapak, Ris!” Aku mulai sesak. Kepalaku penuh oleh kegelisahan yang mendalam.

“Apa kamu tidak mau jadi ‘orang’? Kedua adikmu bisa sekolah sampai sarjana. Rumah kita dipugar menjadi rumah mewah. Hidup kita akan terangkat. Orang lain akan memandang kita dengan hormat. Pikirkan balas budi kita, Nak!” suara Ibu juga tak kalah lembut.

Daliyah, oh Daliyah keparat. Sudah berapa lama kau hidup di Jakarta? Sepuluh? Duapuluh? Tiga puluh tahun? Ah, rasanya kehidupan ibukota telah mengubah wataknya menjadi lupa asal. Ia lupa bahwa dulu pun ia berasal dari desa. Suaminya pun berasal dari desa yang sama. Perjodohan pula! Persetan keningratan, persetan kekayaan!

***

SUARA-suara gamelan memaku tubuhku tepat di pintu gerbang gedung perhelatan pesta. Kepalaku terasa lebih pening daripada tadi saat ijab qabul. Di dalam ruang perhelatan terlihat penuh oleh manusia. Karpet merah memanjang dengan taburan melati dan pandan di atasnya membuat ruangan berpendingin ini begitu semerbak. Lututku gemetar, kepalaku terasa berat. Sanggul dan roncean melati di kepalaku sungguh membuat leherku limbung.

“Ayo, jalan! Gandengan!” seru suara suara di belakangku.

“Ayo Ris. Jangan diam saja!“ Aku ingin menangis menahan sakit di sekujur tubuhku.

“Ayo, Ibu yang gandeng!” sekuat tenaga kusambut tangan ibuku. Kuremas bersama keringat yang mengucur deras. Bibirku beku, dingin. Ibu tak kalah dingin dan berkeringat. Kurasa ia pun gugup menghadapi suasana berkilauan.

Suara gending kembali memukul-mukul kepalaku. Tatapan mata seluruh pengunjung perhelatan seakan menelanjangi tubuhku. Aku tak berani menatap. Hanya menunduk dan melihat karpet merah memanjang hingga ke depan pelaminan. Perawan desa naik tahta!

Sebuah tangan mempersatukan tanganku dan tangan Hadi untuk bergandengan. Kurasa ini tangan kurang ajar Daliyah. Aku takut membikin keributan di tengah pesta. Kubiarkan saja tangan Hadi menggenggam tanganku, melangkah pelan hingga sampai di tempat pelaminan.

Kulihat Hadi yang usianya dua kali lipat usiaku berdiri di sebelah kiriku. Bersalaman dengan seluruh tamu dengan mendongak-dongakkan atau memiringkan kepalanya dengan aneh. Aku tak berani melihat. Adegan saat ijab qabul siang tadi berulang kembali. Sesekali dihentakkannya kepalanya dengan keras, lalu mendehem, dengan keras pula, lalu tertawa menyeringai dengan separuh giginya yang tanggal. Aku terpaku. Kakiku sakit. Lututku gemetar harus berdiri begitu lama.

Aku harus mengikuti serangkaian acara perkenalan, sowan ke seluruh sanak famili di Jakarta. Memakai sepatu bertumit tinggi hingga membuat kakiku lecet, berpakaian yang kukira sangat mahal harganya, rambut disanggul, riasan wajah yang terasa tebal di kulit pipiku. Ah, semua mengingatkanku pada tukang tandak di kampungku.

Tatapan aneh dan sinis sanak keluarga menyapu tubuh dan wajahku. Keramahan mereka tampak dipaksakan. Rumah-rumah mewah yang kami datangi seperti rumah keraton di Sumenep. Ornamen kayu dan ukiran Madura di sudut-sudut ruang menjadikan aku seperti orang asing dari desa terpencil. Meja meja hias dari porselen, guci-guci bagus. Huh! Melangkah pun aku gugup, tidak berani terlalu cepat. Lantai terlalu licin dan mengkilap!

Aku tidak berani menatap mata mata mereka. Yang kulakukan hanya tersenyum dan menatap ke bawah, mengangguk, atau berbicara seperlunya saja. Badan tidak boleh terlalu tegak, harus sedikit melengkung untuk menunjukkan kesopanan. Tertawa tidak boleh terlihat gigi. Itu semua aturan yang diberikan Daliyah. Sementara Mas Hadi selalu tertawa menyeringai di sampingku dan kerap menepuk-nepuk pundakku.

***

HARI ketiga. Belum seujung kulit pun Hadi menyentuhku. Ibu selalu menemaniku. Tak kuperbolehkan pulang, juga Bapak. Rumah ini terlalu besar jika hanya harus berdua saja dengan Hadi. Tidak! Aku tidak mau tinggal sendirian. Berdua dengan Hadi, tapi tetap merasa sendirian!

Suatu malam bahkan Daliyah mengunjungi kami dan berbicara pada Mas Hadi tentang dokter dan rumah sakit. Tanpa setahuku, esoknya mas Hadi dijemput oleh Daliyah entah ke mana. Malamnya Daliyah datang tanpa Mas Hadi. Ke mana suamiku?

“Dik Ris, aku membawa Hadi ke rumah sakit jiwa. Sebelum dia mengamuk lagi, aku harus membawanya ke sana. Kamu jangan kuatir, biasanya dia diopname cuma tiga hari. Sengko’ lesso! Capek, pulang dulu!” tanpa meminum suguhanku ia segera beranjak lagi. Rupanya supir masih menunggu, mesin mobil tak dimatikan.

Aku terhenyak. Tak kusangka! Tiba tiba aku begitu dendam pada Eppak, pada Ibhu, pada Daliyah dan seluruh keluarga besarnya, pada kemiskinan keluarga kami turun-temurun di masa lalu. Balas budi yang tak kusanggup menjalaninya selama sisa hidupku.

***

IBHU terdiam di ruang tamu. Perjalanan jauh Sumenep-Jakarta cukup melelahkan baginya. Baru sebulan yang lalu Ibu pulang ke Sumenep, kini sudah kuminta ia kembali lagi. Semenjak beliau datang, keluh-kesahku tak habis-habis bercerita tentang Mas Hadi.

Siang dan malam yang seperti neraka. Suara-suara aneh setiap saat ia kambuh. Berbicara tak keruan, melantur yang tak kumengerti artinya. Jika kutanyakan, ia malah balas membentakku. Ceracaunya pun makin menjadi-jadi. Jika ada barang apapun di sekitarnya, ia akan pukul sejadi-jadinya meski tangannya harus terluka. Yang bisa kulakukan hanya melindungi tubuhku dan menangis tanpa suara. Pojok kamar tidur menjadi tempat teraman bagiku.

Apakah aku harus menyesali takdirku jika harus membalas budi pada keluarga Daliyah? Demi kehormatan keluarga dan kesejahteraan tak seberapa dari tambak garam Eppak dan bantuan keuangan dari Daliyah. Jika aku berhasil menjadi “oreng”, aku bangga! Tapi siapa sangka jika suamiku ternyata memiliki kelainan jiwa?

“Do kanak! Jangan menangis, jangan menyesal. Ibhu dan Eppak tidak tahu kalau Hadi seperti itu. Ingatlah, mereka keturunan ningrat, dari kota. Tidak mungkin Nak Hadi sakit jiwa!“

“Saya seperti hidup sendirian, Bu. Keluarga Mbak Daliyah sangat berkuasa. Rumah tangga kami diatur semua olehnya!”

“Bukankah itu baik, Nak? Daliyah tidak lepaskan kalian begitu saja. Sebagai kakak dia ikut bertanggungjawab. Apalagi dia selalu ingat janjinya pada Eppakmu!” Ah, Ibhu menjawabnya seolah kehidupanku adalah jalan yang lumrah ditempuh oleh gadis-gadis Madura dalam menjalani perjodohan.

“Sekarang mana Hadi, suamimu?”

“Mas Hadi dirawat lagi Bhu. Sake’!”

“Sakit apa?”

“Sakit jiwa! Komat!”

“Masya Allah! Kenapa kamu tidak pernah mengabarkan pada Ibhu??”

Ibhu meletakkan tas tangannya. Ia merengkuh bahuku. Kerutan di sudut matanya kian jelas. Alisnya terangkat, wajahnya yang lembut seketika berubah menjadi sedih. Air matanya tetap tertahan. Ah, Ibhu tak pernah menangis. Bahkan ketika tambak garam gagal panen dan kami sekeluarga harus menahan lapar, mengurangi jatah makan tiga kali sehari menjadi satu kali.

Ibhu pantang menangis! Eppak sibuk berdoa, tak ada lain dilakukannya selain menghabiskan waktu di langgar. Berdo’a dan berzikir mengharap cuaca baik dan panen garam berhasil untuk semua petani garam di desa.

“Tapi kehidupan kita berubah, Ris! Rumah kita sudah tidak berdinding papan. Tanean sudah megah, berdinding tembok. Eppak punya mobil sederhana untuk pulang pergi ke Malang menengok adikmu. Ba’na toro’ oca’ ka reng toa. Bhaktena ba’na….,“ Ibhu terisak. Air mataku mengalir semakin deras. Mungkinkah Ibhu akan mengorbankan hidupnya demi kekayaan? Tidak bagiku!

Tak seorang pun tetangga kami mengira bahwa aku adalah anak seorang petani garam dari pesisir Sumenep, keluarga miskin dan kelaparan. Pernikahan ini hanya demi melanjutkan trah keluarga besar Daliyah. Dan trah itu tidak boleh tercemar! Aku terikat dalam perkawinan yang ganjil, burung dalam sangkar emas, bersuami tapi tak bersuami, berumah tangga tapi ditanggung oleh keluarga besarnya. Tubuh dan pikiranku bukan milikku!

***

IBHU berbaring melepas lelah di kamar depan. Matanya terpejam, aku tak berani bersuara, mendekat atau sekedar menutup tirai jendela. Matahari segera lingsir ke Barat. Gema azan ashar telah lebih satu jam berlalu. Ibu belum bangun. Aku khawatir beliau akan marah jika tak dibangunkan untuk shalat.

“Bhu! Ashar! Bangun, belum sholat kan?”

Ibhu bergeming. Wajahnya tersenyum. Mungkin beliau bermimpi.

“Bhu!“ kusentuh lengannya agak keras. Tangannya terkulai dari atas perut. Kupanggil sekali lagi, kusenggol kembali jemarinya. Dingin. Sajadah dan rokoh masih tergeletak di sisi tempat tidur. Agaknya Ibu telah selesai sholat ashar. Butiran tasbih tergenggam di tangan kirinya. Kucabut dari genggaman, Ibu tak bersuara.

Aku mulai panik. Dadaku menyesak.[]

Jati Asih, 2012

Catatan: Kabin Pateh: Kawin Patih. Ibhu, Eppak: Ibu, Bapak. Sampeyan jha’ kobeter: Kalian tidak usah khawatir. Sengko’ lesso: Saya capek. Sake’: Sakit. Komat: Kumat. Oreng: Orang, sukses Ba’na toro’ oca’ ka reng toa. Bhaktena ba’na: Kamu menuruti kata-kata orang tua. Baktimu… Rokoh: Mukena /alat sholat perempuan.

Kamis, 04 Juni 2015

Kematian Raja

 Cerpen: Weni Suryandari

Perempuan itu mendengus perlahan sambil meraba-raba keningnya. Kening yang semalaman dirasakannya mengucurkan darah kini tak terasa basah, hanya ada bekas luka keringnya, tetapi seluruh persendiannya seakan lepas dan membutuhkan sandaran.
Pagi bertabur keheningan saat sepasang matanya menembus tirai kabut. Kokok ayam bersahutan di belakang sebuah bilik panggung beratapkan daun rumbia. Perempuan itu mengendus-endus bau busuk yang menguar di sekitarnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menguceknya, lalu bangkit membetulkan kainnya yang longgar. Dilihatnya sisa masakan ikan patin  semalam sudah digerogoti tikus di pojok dapur.
Sisa pembakaran tungku semalam belum reda. Bau asap menguar makin pengap di bilik sempit  yang hanya dilapisi  bambu itu. Asap menerobos keluar dari celah-celah lubang kecil di sudut kanan dinding. Mungkin hanya selebar  daun jati tetapi cukup untuk membuat pekat asap berkejaran saling mendahului untuk keluar dari bilik pengap itu.
“Faridaaa….Faridaa….” sebuah suara berat menggedor-gedor kepalanya. Pusing segera menjalar secepat kilat. Tubuhnya gemetaran. Ia nyaris lemas.
“Farida…! Cepat! Kopiku mana??” seru suara itu. Ah, beruntunglah suara itu hanya meminta segelas kopi. Padahal ia telah menyiapkan bara api semalaman jika lelaki itu berani menghampirinya lagi. Belum usai tubuhnya pulih dari rasa sakit sisa pukulan kemarin.
Perempuan itu segera menyalakan tungku lagi. Ia menjerang sedikit air untuk membuatkan kopi bagi Raja, suaminya.
Mengapa perempuan harus berada dalam posisi yang tak bisa mengelak? Apa salahku hingga aku harus menderita seperti ini, Mak? Bukankah dulu Mak yang memaksaku menikah dengan Raja anak Penghulu Desa itu? Bukankah kata guru ngaji,  jika kupatuhi perintah Mak, maka seorang anak akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya? Namun apa buktinya sekarang? Aku tidak bisa bergerak lagi. Aku terkurung dalam gigil sunyi tanpa batas  di belakang rumah suamiku, Raja. Buliran air mata menetes di pipinya. Air mata yang menembus ulu hatinya, yang telah lama mengendap di bilik jantungnya. Airmata yang belum lagi memerah darah, mungkin sedang menunggu saat paling genting. Atau menunggu ajalnya tiba? Farida menghela nafas panjang.
Perlahan ia melangkah mendekati meja  makan. Raja tak terlihat. Mungkin ia sedang memainkan burungnya di halaman depan. Halaman yang dikelilingi pepohonan rambutan dan mangga, di tutupi pagar tembok dan pintu gerbang besi yang  berukuran lebih tinggi dari ukuran manusia. Rapat, sebab tak pernah sekalipun seseorang bertandang atau berlalu lalang di tempat ini. Bahkan Farida tak dapat keluar dari sini.
“Da! Sudah?” Farida  kaget dan reflek menggerakkan bahunya.
“Sudah, Bang…”
“Da! Ke sinilah kau! Mengapa kau begitu takut padaku? “
Ia menyeruput kopinya sambil mengangkat kakinya sebelah. Farida mendekat.
“Berapa tahun sudah kita menikah?” Farida menunduk.
“Berapa tahun, Da?” Farida membisu.
Kepalanya berputar-putar. Ia tak ingat hari. Tak pernah melihat-lihat kalender, tak pernah menghitung berapa kali sudah matahari dan bulan berganti tugas. Ia sama sekali tak ingat!
“Da, kita sudah menikah lebih dari tiga tahun.” Lelaki itu melanjutkan.
“Maksudku, kau belum memberiku seorang anakpun. Kira-kira apa yang ada dalam pikiranmu?”
Farida menggeleng. Sepasang airmata berdenting di lantai. Lagi!
“Nah, aku ingin punya anak, Da! Aku ingin menikahi Linda, anak Engkoh Cin pemilik Kedai Borjuis di kota. Kau tahu kan? Linda itu cantik, muda dan segar. Pasti ia bisa memberiku keturunan yang cantik dan tampan. Ha ha ha…” Ia lupa apa yang diperbuatnya semalam pada Farida. Seringainya membuat kumis baplangnya bergerak-gerak.
Ah, Farida tak pernah memperhatikan kumis Raja. Ia menikah tanpa memperhatikan sosok laki-laki itu dari dekat. Menurut petuah-petuah para tetua, perempuan pantang menengadah, menatap  lawan jenis, atau sekadar menggelengkan kepala untuk mengungkapkan isi hatinya, ketidaksetujuannya. Suara Mak yang lembut dan Bapak yang keras, membuatnya benar-benar tumbuh menjadi gadis manis dan penurut.
“Da! Jawablah! Kau setuju bukan? “ Farida membungkam. Linda atau siapapun perempuan yang akan dinikahi Raja, bukanlah masalah baginya. Ia tak kenal. Ia tak pernah keluar rumah, tak pernah ke kota. Toko Borjuis atau Toko Sederhana sekalipun, ia tak tahu dan tak perduli.
“Kau istri tak berguna Da! Tak bisa memberiku keturunan, kerjamu hanya dapur dan sumur.”
Farida mengerang keras, hanya dalam hati, hanya telinganya yang mendengar. Ia segera membalikkan badan, menuju ke rumah belakang lagi. Membisu tanpa desah nafas sekalipun.
Ia harus segera menyiapkan air panas untuk mandi suaminya, lalu memasak makanan kesukaan Raja, sambal goreng petai dan patin kuah asam. Dapur dan sumur, itulah dunianya. Kasur? Oh, nanti dulu. Ia hanya dipanggil ke dalam rumah utama jika Raja ingin mengajaknya bercumbu dalam kesakitan dan derai airmata tak berkesudahan. Sebuah percumbuan dengan paksaan, sebab tak berlandaskan cinta. Terus menerus hingga kentongan peronda malam berbunyi tiga kali. Waktu yang paling menguntungkan baginya hanyalah saat Raja pergi ke kota membawa pundi uangnya dan berjudi hingga dini hari, lalu pulang dengan bau mulut sisa minuman tuak yang ia bawa tidur.
Pernah ia hendak memanjat pohon dan melompati pagar pada tengah malam, demi melarikan diri dari penjara rumah tangganya yang kejam. Namun kainnya tersangkut di antara tajam besi pagar dan ranting pohon. Ia terjerembab. Menangis pun takkan ada yang mendengar. Ia kembali ke rumah utama dengan menahan tetes darah di pahanya.
“Da, aku akan membawa Linda pulang, nanti sore. Kau siapkan kamar dan masakan yang lezat, agar ia betah tinggal di sini, Da…” Farida tersentak. Ia tak menyangka akan secepat itu. Nanti sore?
Perempuan itu menelan ludah yang sedari tadi tercekat di kerongkongannya. Ia mengepalkan jemarinya.
“Bang, apa tak sebaiknya saya abang ceraikan? Bukankah Abang akan lebih bahagia nantinya?”
“Apa katamu? Tak mungkin aku menceraikanmu. Siapa nanti yang akan mengurusku Da?”
“Bukankah ada istri baru Abang? “ ia enggan menyebut nama perempuan yang akan menghuni rumah ini.
“Hei! Linda tak akan kusuruh mengurus rumah. Ia cantik, Da! Tak sepertimu, lusuh dan berbau udik.” Betapa ringannya lidah Raja berkilah seperti itu.
Farida menahan gemas. Jika demikian maksud Raja, pupuslah harapannya selama ini.
“Da. Kamu tetap istriku. Linda juga istriku. Kalian berdua tak akan terpisahkan dari sisiku. Setiap istri punya tugasnya masing-masing. Begitu ‘kan? Ibumu akan berbahagia di alam sana, melihatmu menjadi istri yang berbakti untukku. “ seperti biasanya Raja selalu menggunakan kalimat itu sebagai senjata untuk melumpuhkannya. Farida menekuk muka.
“Masak yang lezat ya, Da. Jangan sampai Linda kecewa karena masakanmu tidak enak.”
Seringan lidahnya mengucapkan kata-kata itu, ringan pula langkahnya keluar rumah. Kunci gembok  tak lupa ia bawa serta. Ia tak ingin istrinya keluar rumah pada saat dirinya tidak ada.
“Bang! Abaaang! Aku ikut Bang! Aku ingin bertemu dengan calon maduku.” Kepala Farida mulai dipenuhi  siasat. Ia berlari mengejar Raja di halaman. Kainnya berseliweran, hampir saja kakinya  terantuk batu kecil di anak tangga terakhir. Ia segera menguasai diri dan melangkah tertatih-tatih.
“Untuk apa? Kamu menunggu di rumah sajalah. Aku harus bertemu dengan Engkoh Cin dulu.”
Farida merenggut tangan Raja. Belum pernah ia lakukan hal ini seumur perkawinannya. Ia merajuk dengan terpaksa, mengusir muak yang bertahun-tahun bersarang di benaknya. Raja mengernyitkan sebelah alisnya. Mulutnya berkerut, mengerucut. Matanya tajam menatap Farida. Ditepiskannya tangan perempuan itu.
 “Bang…ajak aku serta! “ Farida berlutut di bawah kaki Raja. Ia memohon dengan wajah memelas. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan hanyalah berlutut.
“Masuk! Masuk!! “ Bentak lelaki itu sambil menendang tubuh Farida, mengenai pahanya. Farida terjerembab. Raja segera keluar, pagar besi pun tertutup rapat.
Ia tak percaya begitu sulitnya untuk  mengelak takdir.
Beberapa ekor ikan patin yang dibeli Raja kemarin pagi belum diapa-apakan. Ikan-ikan itu masih asyik berenang di sebuah bak besar. Ia tak tahu akan berbuat apa, mana yang harus dikerjakannya lebih dahulu. Menangkap ikan itu dan memukul kepalanya, atau mengupas bumbu dan menyiapkan tungku kayu.
Ia menahan rasa sakit di pahanya. Kini wajah perempuan yang disebut-sebut bernama Linda itu memenuhi kepalanya. Ia belum pernah melihatnya, tak pernah mengenalnya. Seperti apa Raja memperlakukannya nanti? Seperti dewi kahyangan ataukah seperti dirinya?
Pernah satu kejadian lagi pada siang hari, kunci gembok tergeletak di atas meja rias. Raja tertidur pulas, dengkurnya keras. Ia ambil  kunci itu diam-diam, namun terjatuh, menimbulkan suara keras. Raja terkejut dan menghardiknya.
“Farida! Apa yang mau kau lakukan? Ha?” serentak Raja bangkit dan sigap mengambil kunci yang tergeletak di lantai. Farida pucat, tercekam ketakutan.
“Da! Kau mau kabur ya? Ngaku!” serunya membelalak. Ia jambak rambut Farida. Farida meringis kesakitan. Ia membisu. Bibirnya gemetar.
“Awas kalau kau berani! Dasar perempuan tak tahu diuntung!” ia hempaskan tubuh ringkih Farida ke lantai. Ia tak menangis, sudah terbiasa. Farida segera berlari menuju dapur belakang. Sejak saat itu ia tak pernah berani lagi mencuri kunci gembok untuk yang ketiga kalinya.
Suara Raja dan suara tawa kecil perempuan dan celotehnya yang nyaring mempertegas kehadiran perempuan lain di rumah itu. Ia segera menuju ruang depan
 “Farida! Kenalkan, ini Linda. Lihat, cantik bukan?” Raja menyeringai penuh ejekan. Apa maksudnya? Tanpa mengejekpun Farida sudah terlalu luka. Perempuan itu mengulurkan tangannya. Farida tersenyum kering. Meja makan kosong. Sebentar lagi Raja pasti membentaknya.
 “Da, mana makanan kesukaanku? Kau belum buatkan?” Farida menggeleng.
Ia segera menuju dapur. Satu jerigen minyak tanah masih belum terbuka tutupnya. Satu jerigen lagi sudah sisa seperempatnya. Ia segera menyerok ikat patin itu dengan jaring. Ia pegang ikan yang paling besar. Ia pukul kepalanya dengan gagang pisau. Wajah Raja dan perempuan itu sedang tergolek di kamar membayang jelas. Kamar yang telah dirapihkannya dengan kelambu putih yang menjuntai dan seprai putih  sesuai perintah suaminya.
Farida membawa masakan patin ke dalam rumah utama. Tak terdengar suara, sunyi semata. Kunci gembok tergeletak di meja makan. Terbetik keinginan untuk lari. Tapi ia takut Raja akan memburunya. Ia buka pintu yang memang setengah terbuka. Kedua insan itu sedang nyenyak  dengan busana yang terbuka sebagian. Jerigen minyak tanah segera ia siramkan ke kelambu, ranjang kapuk dan tubuh keduanya. Ia habiskan seluruhnya tanpa sisa. Basah dan bau minyak tanah begitu menyengat.
 “Farida! Apa yang kau lakukan bedebah??” suara Raja menggelegar. Perempuan di sampingnya terkejut membuka mata.
Tangan Farida gemetar sambil menyulut sebatang korek api, ia lemparkan ke atas selimut, sebatang lagi ke pakaian keduanya, sebatang lagi pada seprai, ia biarkan kamar berkobar dengan bibir gemetar. Ia raih kunci gembok di meja makan, sambil berlari dan terus berlari tanpa menoleh lagi.
Lolongan sepasang manusia itu terdengar merdu di telinganya. Farida tersenyum  menembus bening udara dan cahaya yang menyambutnya. Petuah leluhurnya samar samar dan patah patah mendengung sayup di otaknya.
Jati Asih, Maret 2011
(Dimuat di Harian Suara Karya, 2 Juli 2011)






BULAN PECAH

BULAN PECAH Alangkah tebal tanda seru untuk perasaan sebal saat bulan tidak lagi utuh, sedang dadaku butuh kemurnian jalan wirid ;kembali pada Hyang Pohon nyiur di Timur berkibas, masa silam tenggelam, bertunas, bunga kesadaran merebak. Para pandita berlayar melanjutkan doa-doa, barangkali kita sanggup melupa duka dan air mata negeri padahal kertap pada atap dadamu kerap berderap lebih mencekam serupa bulan pecah belingsatan bertaburan di laut.