Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2018

KOMPOSISI BEETHOVEN: :MOONLIGHT SONATA


KOMPOSISI BEETHOVEN
            :MOONLIGHT SONATA

Sebagian cerita maha duka dari lirih tempo alunan piano,
adalah komposisi purna menyayat perasaan kehilangan
keindahan musim semi di Vienna, bunga melayu di mataku.

Malam ini bulan tidak bulat purnama bersama sonata
bergulir bagai drama dalam partitur Una Fantasia
dengan tempo adagio, mengelus-elus pendengaran.

Imajinasiku melambung jauh ke pintu peradaban
klasik dalam concerto berirama haru, lalu melambat
seperti bunga-bunga kematian, aku disergap kesedihan.

Jarak di antara dua belas pinus di tepi danau Lucerne,
di hutan empat musim dalam melodi rumit, membawa
kaki berlari dari kejaran hari-hari tanpa jeda. Bukankah
hidup adalah detak detik bergerak, wujud setiap rencana?

Tapi segalanya memang harus berakhir ketika layar
ditutup. Aku tersadar dari sihir partitur klasik  pemuja
seni yang mengembara di udara beraroma rindu.
Sebuah kisah terbakar api, tapi puisi-puisiku tetap abadi.

2017-2018



KOMPOSISI VIVALDI
            :FOUR  SEASONS

Empat musim berganti dalam concerto
bunga-bunga, daun-daun gugur, salju,
hujan dan rupa perasaan menandai satu
demi satu perubahan partitur cuaca.

Harum  pinus menguar di udara usai
hujan, saat perjanjian dengan langit
membuka jalan mendaki, kadang
menurun, berirama cepat, atau lambat.

Sedang aku berjalan buka tabir demi tabir
dalam irama allegro. Tanganku bergetar
menyusun kolase kota-kota yang terjamah
oleh empat musim. Segalanya tampak seperti

remaja yang setia pada mimpi-mimpi asmara.
Sementara perjalanan di bawah bulan muram
tak dapat mendustai kenyataan tentang hawa
pegunungan yang seolah kaupuitiskan.
Padahal keluh kesah dan air mata menjadi

kehilangan daya, bagi kepalamu yang membatu.
Lalu aku terbang bagai trance, mengikuti
suara angin dan simfoni di telingaku
mencarimu yang tak pernah ada!

2018



KOMPOSISI BEETHOVEN
            ;FUR ELISE


Dua ekor angsa bermain di tepi kolam air mancur.
Ekornya putih berkibas-kibas melepas air ke udara
bersama lanskap daun-daun musim gugur sewarna senja.

Di atas piano, partitur menyaji nada-nada haru
not demi not, simbol romantisme sepasang kekasih
kasmaran, terpisah oleh ruang dan perjalanan anak anak zaman

Dicekam nada-nada di telinga, aku mengatup sepasang mata
untuk kenangan tentang surat-surat merah jambu yang kusam
dalam kalender masa kanak-kanak saat darah pertama mengalir.

2018









KOMPOSISI  TCHAIKOVSKY
            :WALTZ

Berpasang-pasang kekasih berdansa dalam rumah Kristal.
Irama waltz  bersama derap ketukan sepatu di malam pejal
Tchaikovsky mengatur melodi dalam partitur cinta sejati.

Siapa ingin berhenti dari menyelami bunyi klasik,
sedang ungu lavender dan lanskap daun maple
telah mencipta siluet kenangan di pelataran sore.

Sepasang kekasih enggan melepas waktu dan segala
ketiadaan bagi setiap kemungkinan terburuk
Langit menurunkan angin lembut membelai pipi
di pucuk harap sebelum Kristal kenangan menguap.

2018




EINE KLEINE NACHT MUSIC
            ;MOZART

Malam memang selalu mencemaskan bagi kamar
kesunyian. Padahal kemerdekaan perasaan tidak
lahir dari ambisi penaklukan bagi kesepian yang
meraja. Nacht Music menggiring perasaan murung.

Bahkan urutan partitur di udara mengalun abadi
dalam bahasa surga, angan-angan para pengembara.
Serupa arus darah yang berkejaran di antara jalan
peristiwa yang menyemburkan cahaya dari lubang kepala

Abadi dalam pengulangan perayaan demi perayaan,
yang melampaui batas jarak dan waktu. Irama kerinduan
membius syaraf pada notasi rendah dan tinggi hingga
segala yang fana mesti berakhir.

2018



Dimuat di Basabasi.co puisi 24 Juli 2018








Rabu, 03 Oktober 2018

BULAN PECAH



BULAN PECAH


Alangkah tebal tanda seru
untuk perasaan sebal
saat bulan tidak lagi utuh,
sedang dadaku butuh
kemurnian jalan wirid
;kembali pada Hyang

Pohon nyiur di Timur berkibas,
masa silam tenggelam, bertunas,
bunga kesadaran merebak.

Para pandita berlayar
melanjutkan doa-doa,
barangkali kita sanggup
melupa duka dan air mata negeri

padahal kertap pada atap dadamu
kerap berderap lebih mencekam
serupa bulan pecah
belingsatan
bertaburan
di laut.


Minggu, 02 Oktober 2016

Penari Tayub, Tarian Jiwa dan Menuju Sunyi


Menuju Sunyi


Sebelum angin menghempas ombak ke pantai
Di tempat rindu pernah bersemai, hujan rinai
Engkau menatap senja di lepas laut
Bersama sepenuh perasaan pantang surut

Perahu terombang ambing oleh harapan
getar doa memecah karang, ada yang luruh
dari dada, hangatnya membias bola mata
Keindahan itu mendiami ingatan di kepalaku

Sementara sebuah kapal telah membawaku
berlayar menuju dunia sunyi,  dalam kecupan
rahasia, teka teki musim pelayaran dalam mimpi
yang tak pernah terungkap di peta peradaban

2016



Rindu Betara

Sekokoh karang, tajam ombak menembus ingatan
Saat buihnya mendaras namamu, berdeburan
di jantung laut,  manja pada hangat pelukan

Segala berwajah engkau di liuk gelombang
Langit mengerjap di mataku, rinduku malang
Hingga teja matahari di Barat, rupa udara
bikin mabuk padamu, duhai betara
;kujelang  asmara sewangi daun bidara


2016

Tarian Jiwa

Tak ada pelangi berpendar di mataku
Sedang gemuruh ombak penuhi dada
Aku hilang tiang, percakapan melayang
Layar terkoyak, sampan tenggelam
Tubuhku mawar kering, menyelam
             ; karam di palung rahasia
Diam diam angin membawa risalah
Tentang  kenangan bulan basah
Aku hilang sinar, jantung berdebar
lubang luka membiru dalam dada
diam diam disentuh kabut semilir
Kulihat Engkau kembali, tersenyum samar
membawa ronce melati dan mawar
Pada lautan maaf, angin menuliskan kata,
mata membaca makna.
            ; padamu, kulihat jiwaku menari

2014


Penari Tayub

Senja itu lampu taman bercahaya benderang
pesta belum usai, seorang tayub melambai
Sepasang kaki indah melantai, suara gending
terdengar begitu magis, sedang cuaca gerimis

selendang hijau berayun-ayun, mengundang lelaki
jatuh birahi, sambil menggigil di tebing neraka
Oh, dia tak tahu dada penari sekarat ‘nganga luka

purnama tergelincir di selokan musim penghujan
angin malam nyasar bertiup hasrat mabuk rayuan
Kembang di sanggul rontok, air matanya beku
tangisnya nyaris terkunci oleh bibir kepedihan

Kini suara gending hanya sayup di telinga
terdengar lebih perih dari cuka menyiram luka

Jati Asih, 2014


Ironi Sepi

Aku melihat pusat keramaian beraroma kesepian
Nafas leluhur yang terbungkus masa lalu,
terkunci oleh perjalanan waktu.
Nyala lilin dan mantra tak mampu membuatku
berlari dari angan angan
burung burung bernyanyi,  pepohonan menari
Sungai sungai mengalir dari mata air matamu

Berpagar jarak aku sembunyi dari kecemasan
demi kecemasan, perjalanan ke masa depan
Anjing-anjing sembahyang, suara alam bertasbih
Sedang kusaksikan punggungku memanggul gunung,
kakiku tenggelam di genang anggur. Seribu ciumku
untuk dahan dahan patah di musim pengharapan.
Anak anak bermain kecapi, lalu bulan pun
Padam genapi sepi, suara rintih kudengar
samar dari kedalaman pucat dada
lebih pilu dari duka kematian

2015


Dimuat di Koran Merapi, Jogyakarta 12 Agustus 2016


Jumat, 29 April 2016

Puisiku di Jembia Batam Pos



Nyanyian Pagi

Tak ada cericit burung di huma semayang ini
Kecuali nyanyian pagi menderas jauh di air kali
Perempuan mencuci kutang, rindu pulang ke sarang
Tempat ibu menanam cabe, memasak petis
telur bersantan. Perempuan bermata intan menangis
ingin melupa lelaki jalang dari tualang

sejenak waktu berhenti, cairan najis menepis tanya
“siapa bisa mengajariku menggali surga, demi rahim
masa depan?”
Perempuan itu rindu pulang ke ceruk jelapang
Di kebas angin dari Timur, gugur daun ketapang 
Ia menulis takdir di matanya, lubang api meradang
“dosaku teramat banyak, biar kuburku jadi subur.”
Di situ anak-anak membuat taman, bermain ayunan
dan menjadi pengantin berbunga kamboja dan mawar
“Surga itu rumahku, rumahku!”

Nyanyian sungai pagi hari lebih berisik dari
Perempuan mencuci najis yang rindu pulang
ke pulau seberang, rumah tempat sembahyang

Jati Asih, 2015
Saronen

Serupa mata kanak-kanak, dalam bayang-bayang
Tontonan gong tetabuhan dari pinggir pematang.
Angin menderu dihantui kecemasan tak berbilang
;siapa yang tak ingin pulang?

Tiba tiba saja senja beranjak buram
Mata-mata meneteskan cerita purba
Tentang barisan penari dan lengking saronen
Sapi sono’ berlaga, orang-orang gembira

dalam keterasingan aku berlumut rindu
di selat Madura, di atas beton  Suramadu
kapal-kapal mulai bertambat, suara pelabuhan
tinggal lamat-lamat, melayari sepi yang karam
meski lengking saronen menusuk batas muasalku

Jati Asih, 2015

Pulang Ke Tanah Garam

Dalam keramaian kucium tanah kapur
Berhembus seiring nafas leluhur
Aku pun berjalan meniti kesunyianku
Di rantau, di rantau kerinduanku sebisu batu

wangi dupa dan mantra tak mampu membuatku
berlari dari angan angan pulang ke tanah garam
burung burung bernyanyi, cemara udang menari
nelayan menjaring ikan, laut setenang kenangan
Sungai sungai mengalir dari mata air mataMu
Cahaya pada angan, api yang tak kunjung padam

Berpagar jarak aku sembunyi dari kecemasan
demi kecemasan, perjalanan ke masa depan
orang-orang sembahyang, suara alam bertasbih
Anak-anak bermain sapi-sapian, menghalau kemarau
Hening malam berpijar bulan, hanya laut berdeburan
;Seribu ciumku untuk mimpi-mimpi patah
bersama Sloppeng dan pasir putih usai lebaran

Seketika bulan pergi menggenapi sepi,
Sedang saronen tetap melengking di kepala
Aku dan silsilah tetap berpulang pada amanat

Jati Asih, 2015

Sisa Kanak kanak

Orang-orang berlalu lalang dalam keramaian pesta karapan
Kulihat cemara udang di tepi laut, membungkuk takjub
seperti nasib perawan saat cinta dan asmara hanya ditulis
atas nama keluhuran buah surga yang disebut bakti

Kugenggam masa lalu, ziarah Asta Tinggi
Bersama celoteh bocah dan musim buah srikaya  
Darah leluhur mengaliri nadi, batu putih,
alun alun, Labang Mesem berayun-ayun
saat leluhur mengikat janji lalu “Kun!”

Sepanjang pesisir, perahu nelayan berbaris
pasir pantai menjejak langkah semakin ritmis
atas nama jati diri, dua kaki kini terbelah
kebimbangan meraja.
Petis dan singkong lumer oleh waktu,
Selain deru karapan dan asap tembakau
menguar di udara, bersama suara pecut,
Apa yang tersisa dari masa lalu, selain silsilah
dan peribahasa. Sedang hidup seperti berlari cepat
Suramadu  menjauhkanku dari jejak leluhur,
serpihan jiwaku yang tercerabut dari tanah akar,
sesakit luka pada kenangan yang terbakar.

Jati Asih, 2015

Sisa Cium di Alun Alun

Suatu masa, angin kesiur di buritan, geladak sesak
Di amis laut, aku menitip kemelut, saat aroma kapal
Potre Koneng dan nafas nelayan tak mampu menguak
perjalanan peradaban, masa lalu ke masa depan

Perahu ikan berbaris-baris menanti jantung gerimis
Jalanan panjang membelah pulau, menuju ujung
Sumenep, tempat leluhur menyimpan jejak hingga
tedas waktu pada takdir bergulir

Karapan, lebaran ketupat membius luka batin
Isak membasah, beban rindu tak pernah usai
Ingatan sisa cium di alun alun, kerap melambai

Kini puisi menelusuri jalan kembali ke kotaku
Aroma kapal dan amis nelayan pudar
Kenangan lantak oleh  lampu-lampu jalanan,
Di atas laut, Suramadu menjalar sekokoh takdir
Ingatan pingsan di kepala,
Sepasang pecut melecut kabut di mataku

Jati Asih, 2014


Dimuat 17 Januari 2016

Sabtu, 12 Desember 2015

Puisi Weni Suryandari di Suara Merapi


Hujan dan Perjalanan

Hujan lah yang turun dihamparan bumi
Pohon-pohon tersenyum, kemarau tenggelam
Jalanan kini basah, merendam jejak-jejak kata
Bersama waktu di punggungku, mencipta cerita
dari rekahan bianglala perjalanan

Diam diam kunyalakan doa-doa bersama
keheningan dilangit merah jambu selama
tujuh purnama hingga kesat dada

Barangkali kelak di jantungku ada sebuah puisi
Berwarna matahari membakar waktu
Antara keangkuhan dan kesangsian yang
Gemetar menerima kitab persaksian

2015

Birahi Sepucuk Batang

Seorang gadis kecil berlari, tubuhnya getas
seperti batang padi dilalap api. Matahari cemas
menjilat ubun nasibnya dan rambut sewarna emas
Sepotong kue dalam genggaman, wajah emak
dalam kepala, sedang merebus batu dari pelepah duka
“Emak, lihatlah!Aku membawa umpan bagi senyummu”

Seorang perempuan tua menghitung uban
Menatap langit sekosong mata, seekor anjing melolong
Gadis kecil sodorkan kue umpan di tangan
Tuan pergi berabad jarak, tinggal anjing dan emak
“Tuan sudah mati di dadaku."

Gadis kecil berjingkat, pohon pohon tangis
tumbuh layu di kepalanya. Ia berbisik perih
“Tuhan, jangan biarkan aku dimakan gergasi, disini
tidak ada laki-laki. Hanya ada satu anjing setia.”

Seorang lelaki terkapar oleh matanya yang lapar
Tentang birahi pada sepucuk batang

2015

Rumah Asap

Aku menyaksikan orang orang berlaga
Mengundi keriangan nasib di tangan langit
Sedang udara bertirai asap, hanya sejengkal
pandang, tubuhmu lesap, ditelan kegelapan
Serupa pemabuk kehilangan impian kosong
Suara anjing tak henti melolong terdengar
lebih ngawur dari kelamin hilang batas.

Sementara orang orang berdoa di jantung sendiri
merapal mantra yang dibaca angin, mencari
peta perjalanan yang hinggap di atap musim padi.
Hutan kian nestapa, kita menyetubuhi kabut
Sambil menguji kekuatan, siapa akan kalah?

Orang-orang itu menyalakan api di wajah zaman
Hujan membeku dalam kemarahan parah, sebuah
perjanjian melahirkan kematian demi kematian
kita kian lelah pada kekejaman

Kemarilah anakku, kelak akan kau ceritakan
Tentang sebuah rumah asap, tempat kita bernafas
Yang pernah ada dalam perjalanan sejarah
dan air mata sekadar tempat bersuara

2015

Tentang Suatu Senja
            ;Sriwedari

Matahari menampung rindu  yang  kental
Membawa setiap degup pada kata bernyawa
Debur dada pada senyum kota harum batik
Senja berlapis-lapis, meninggalkan siluet diri

Kutulis puisi dari jalanan dan ruang abstrak
Tentang hidup dan kematian yang menombak
kegelisahan, Sriwedari melawan ingatan.
aku jumpalitan, kesunyian berpendaran
dimatamu, hanguskan musim kelam

Demi waktu yang memukulku dari mabuk dunia
Kukisahkan tentang ajaran pusaka adiluhung
dari lontar babad tanah Jawa
Sejarah yang menghimpun kita dalam
jalan  panjang  peradaban

2014

15 November 2015

Puisi Weni Suryandari di Suara Karya II

Laut I

Dari matamu yang sabit, aku benci kehilangan
Sebab di sana tersimpan makna kata dan tatapan
Sedang  pantai beraroma mawar, kabut pun menebar
malam malam pertemuan sekokoh mercusuar

Seketika bulan pun kalah, sebab matamu lebih nyala dari sepi
di waktu waktu kelam yang meletih, tubuhku kian pipih

Laut kenangan meruncing di ujung karang, pecah
berderaian, menembus jantungku


2015

Laut II

Kubuka mataku, berlayarlah padaku
Saat angin dan ombak bermain di bawah bulan
dan pepohonan tinggal menunggu bayang bayang
bibirku beku, sedang laut mengalun tenang

aku melihat orang orang gelisah menunggu
garis nasib pada perut dan harapan yang tak surut
Pengangguran menjadi angka harmonis bagi kemiskinan
Bendera lupa pada slogan, kita cuma diam

Berlayarlah di mataku, akan kau selami samudera
dan riwayat karang dari anyir perjalanan getir
Di sana akan kau temui cahaya kebijaksanaan
Tentang hidup dan maut sebagai ampas ruhani bagi usia
dijerat lalai bagi pesta penjilat yang tak pernah usai


Kubuka mataku, berlayarlah padaku
Akan kukecup kerinduan di bawah bulan
Perahu Khidr menelan pengkhianatan
Hingga tenggelam pada surga penghabisan

2015



Laut III

Bulan tipis, ombak berbaris ritmis
Ikan ikan melompat  di riak kenangan
Ada yang basah di mataku, bayangmu
bermain begitu manis

Meski telah kucipta jarak memanjang
Kemana pun memandang, hanya  wajahmu
Sebab yang kekal hanya tinggal luka
tak dapat kubandingkan sakit semesta

Malam ini kelomang pulang ke sarang
Daun daun nyiur pantai lembut bergoyang
Tangisku aduh, di lepas laut tak habis habis

Bulan tetap tipis, menajam di bola mataku
Menjelma hujan deras, laut mengganas
; namun usia hanya tinggal ampas

2015

Rindu I

Sepanjang jalan
Bulan berkabut  pilu
Menggiring rindu
Kenangan menyergap
Pada mata basah
jantungku pecah

2015

Dimuat 12 April 2015

Puisi Weni Suryandari di Indopos II (Nadhoman)

Segelas Anggur

Kesakitan membatu di dada #  memercik api di mata tanda
Angin mendebur jadi ombak # menjemput cinta kudus berbiak
Berlayarlah perahu sebelum karam # sebelum layar terlanjur terkoyak
; padamu aku mabuk  #  rindu pada peluk

hujan senja merata # pasir tuliskan cinta
basahlah hati yang kering # pecah jantung pada kerling
Kita menuju masa depan # mengusir detak detik kesunyian

Diriku segelas anggur # bagimu aku lebur
Seperti pantai bertemu laut # kita bersama hingga maut

2014

Jika

Jika hati cuma mencintai # bagaimana bisa aku melukai

2014

Lullaby

Kubiarkan jendela terbuka
Menusuk angin # merajuk ingin
Pada ingatan batu # enggan mengusir pilu
Hujan warnai lautan # dari celoteh kerinduan
Serupa nyala lilin # melawan udara dingin
Aku tak sanggup terluka # kenangan manis tetap terbuka
Perahu penuh genangan # kita butuh titian
Agar jantungku tak tenggelam # Dalam tangis malam bertilam

Alangkah perih luka dada # sesak kenangan yang ada
aku mabuk janji # dalam asmara api

Tongkang tongkang nelayan # melepas jarak ikatan
membikin lembar runyam # kisah semusim kelam

Kau terbang ke cakrawala biru # lidahku kelu panggil namamu
langit pias # ombak membias
Suara tangis lebih ringkih # debur dada kian perih
Engkau tetap terbang # langit utara lengang

Dadaku remuk # kenangan terpuruk

2015


Hikayat Janji

Serangkaian doa berkumandang # anganku ikut melayang
Pada ruas matahari # jantungku menyimpan nyeri
Perpisahan lebih sakit dari cinta # meski pertemuan selalu penuh luka

Bersakit-sakit kunanti mimpi # bertambah-tambah sesak di hati
Sehelai rambutmu jatuh di lantai # air mataku runtuh berurai
Aku menanti takdir # berpaling dari getir

Inginku,
Kita selalu bersama # serupa rel kereta
Beriring tanpa berpaling # berharap saling berdamping

kubangun mimpi  #  di pusaran janji

2015

Hikayat Musafir

Seorang musafir menempuh jalan # mencari hikmah kesementaraan
tangan  kirinya bertongkat adab # dada kanannya memegang kitab
berjalan dari zaman ke zaman # membaca lembaran tafsir kesucian
ingin berpulang ke surga # kepalanya bersepuh tembaga

Di lorong langit berwarna pagi # musafir mendengar nyanyi sendiri
Harum Rabi’ah diciumnya # busuk neraka dihalaunya
Ia masih tetap berjalan # mengukur tali kekang peradaban
Ingin berpulang ke surga # kepalanya bersepuh tembaga

Oh, tenanglah jiwa # tenang semesta
Kita reguk anggur dunia # dalam bahasa para sufi
Kitab suci menghampar # kita memikul debar
Malaikat menyusun kisah # kita menghapal ibadah

Ingin berpulang ke surga # kepala bersepuh tembaga

2015

Hikayat Ramadhan

Setiap senja merah menjelang # suara langit berbilang bilang
Rapal doa mengangkasa # jiwaku sedang berpuasa

Ini bukan sebuah metafora # tentang musafir berteman lara
Aku bersijingkat meniti sirat # dari api yang menjilat

Kutatap kaki langit di deru kota # bulan pun belum menjelma jadi kata
Aku bertanya pada kitab # mampukah aku menyusun hisab
Keadilan serupa sabda panglima # Sedang riwayat penuh luka  
Ketika takdir terasa getir # perih berpaling dari hilir

Biarlah biar ombak air mata # mencuci luka bersama mantra
Aku berbisik di telinga Ramadhan # sampaikah harum surga di haribaan

Duhai, hidup alangkah panjang # setiap lembar kuhitung ulang
Sedang ciumku tak pernah lekat # di kitab syair darwis penuh makrifat

Tuhanku, sampaikan aku # pada sungai madu
Nafasku bersimbah keluh # Pada Ramadhan penuh

2015

Hikayat Rindu I

Salamku bagi pesta penghabisan # kidung penutup di deras hujan
Puisi bertutur cinta sejati # di lempang usia tersimpan melati
Dua perahu kudayung sendiri # laut menyimpan kisah nyeri
Betapa luka bertubi tubi # dadaku pecah berkali kali

Salamku bagi pesta penghabisan # kidung penutup di deras hujan
Pada ombak mengalun # kutitip rindu bertalun
Pada sajak # pada jarak
Aku menunggu tanpa kata # di antara mata dan hati

2015

Puisi Weni Suryandari di Indopos I


Lelaki Bulan

Di tepi fajar engkau terpaku, tatap
ujung-ujung rambutku, basah serupa
setangkup hujan yang tergenggam
di tangan birahi tak bertuan

Ranting ranting tua berderak pelan,
mengusik lamunan, merapal mantra
Zulaikha kepada Yusuf, pesona nubuat
            sambil kutelan kata-katamu
hingga beku nadi

Aku berdiri, menggenggam mimpi
mencintaimu setinggi bulan berlesung pipit
Aroma  mawar di kesunyian,
membawa hatiku
padamu

Desember 2011 



Lelaki

Siapakah engkau sesungguhnya
Yang memberiku nama perempuan
dan melanggengkan kenikmatan beriring
kesakitan, menjadi sulur sejarah hidup kita

Pada matamu terlukis cahaya berwarna marun
menyala di jantung, menanam mawar dan mencucup
sisa senja dengan takzim dan penuh hasrat
Sedang aku tetap mengulum matahari, memberimu
ladang mimpi, hendak diam atau menggali lubang
untuk tubuh tanpa detak nadi

Siapakah engkau sesungguhnya
Ketika sunyi menjadi puisi dan kerinduan

Kini kutahu, di dadamu kutetesi darah
Dari pecahan hati yang setia kuutuhkan kembali
Sebab laut selalu memilik pantai, seperti hatiku
yang selalu setia berlabuh

April 2014




 Marsinah; 1993

Kuberitahu padamu tentang harihari
yang terbang ke balik jeruji dan membeku darah.
Bau mayat dan amis sejarah

Gerombolan pedagang kaki lima atau pengemis
menjamur di musim puasa ternyata lebih merdeka
dari nasib  ditusuk besi di lubang kelahiran
padahal kematian itu adalah takdir yang ikhlas hadir

Kuberitahu padamu tentang asal muasal kegaduhan musim,
Saat rumput jadi makanan dan tanah tempat bernafas
dirampas oleh jumawa berbalut seragam, kita menangis
tak punya apa-apa
tak punya apa apa

Simbol kematian hanya tertanam di tanah,
Sedang langit berwarna cerah,
burung-burung terbang rendah,
orang-orang tetap tertawa

Kuberitahu  padamu tentang negeri ini,
 nyawa adalah hitungan untung dan rugi

Mei 2014

Perjalanan Rindu

Aku melihat air mata menderas dari gunung-gunung
Isaknya menggema di udara, di sisi-sisi bukit
menanti kunang-kunang tuntaskan kesakitan
dari matamu. Sejumput kisah penuh kesedihan.

Sebentar lagi malam menutup pintu
Embun menusuk hingga ke rusuk, sunyi mengutuk
Kusaksikan kata-kata menggenangi kolam jantung
Mengekalkan senarai perjumpaan, di lembah bakung

Ini bukan luka yang kita pelihara, atau badai
menghantam dada berkalikali, tetapi hujan
menyatukan kita, sepasang bibir yang kalah
pada perpisahan abadi.

Kerinduan meletup menembus batas kenangan,
bulan semakin berkerut, mengecup hutan perawan,
dan suara angin meninggi, mencemaskan bungabunga,
dedaunan, pepohonan, menerbitkan tangis, menderas
saat rindu begitu bulat,
seperti bulan jatuh
di dadaku

April 2014

Dimuat 13 September 2014


BULAN PECAH

BULAN PECAH Alangkah tebal tanda seru untuk perasaan sebal saat bulan tidak lagi utuh, sedang dadaku butuh kemurnian jalan wirid ;kembali pada Hyang Pohon nyiur di Timur berkibas, masa silam tenggelam, bertunas, bunga kesadaran merebak. Para pandita berlayar melanjutkan doa-doa, barangkali kita sanggup melupa duka dan air mata negeri padahal kertap pada atap dadamu kerap berderap lebih mencekam serupa bulan pecah belingsatan bertaburan di laut.